Meramu

MERDABA ~ Meramu Damai Bersama

SASTRA

Goresan Tinta Cerpen dan Puisi

BOOK CORNER

Temukan Rekomendasi dan Review Buku dari Meramu.com

SEPUTAR ISLAM

Artikel Seputar Islam.

Biology Corner

Belajar Biologi Bersama

Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts

Be Happy First

Belakangan aku sedang fokus merumuskan sebuah tujuan hidup.
Work From Home ini memberiku banyak waktu untuk sekedar tiduran sambil berpikir jauh ke belakang dan ke depan.
Corona ini bukan ide yang menyenangkan, tetapi satu sisi introvert dalam diriku menyukai banyak waktu sendiri yang bisa kunikmati.

Sebulan yang lalu, untuk mengurangi efek negatif yang ditimbulkan, aku memblokir satu kontak di HP. Dia bukan siapa-siapa. Hanya partner kerja yang cenderung tidak pernah mau meminta maaf dan selalu merasa benar. Playing victim juga kadang-kadang. Jadi daripada aku menghabiskan energi untuk menggubris chat-chatnya yang tidak penting, kurasa lebih baik aku memblok nomornya  untuk sementara waktu. Dan sekarang sudah kubuka. Karena kupikir aku sudah selesai dengan diriku dan siap  menghadapi apapun di luar sana.

Kak Mod benar, kalau kita tidak bahagia, bagaimana kita mau membahagiakan orang lain?
Jadilah beberapa hari ini aku fokus membahagiakan diriku sendiri. Make my self a priority. Define what I really want to be dan berdamai dengan setiap inci kekurangan dalam diriku. It works well.

Orang lain mungkin melihatku selalu sabar dan tenang menghadapi beberapa kondisi. Tetapi mereka yang sangat dekat denganku, dan aku sendiri tentunya, tahu betapa aku sangat gugup dalam menghadapi beberapa situasi. Sampai saat ini, meski dari kecil sudah sering naik panggung, aku masih tetap nervous ketika harus tampil di depan umum. Aku selalu bersemangat mengambil setiap kesempatan, kendati demikian aku selalu tidak bisa mengenyahkan berbagai keraguan yang muncul dari setiap pilihan yang aku ambil. Aku selalu berkutat dengan itu. Membangun rasa percaya diriku, menuntaskan keraguanku, dan mengatakan kepada diriku sendiri bahwa semuanya akan tetap baik-baik saja.

Orang lain mungkin melihatku selalu acuh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan cinta, pacaran, dan sebagainya, mereka hanya tidak tahu aku sedang sangat memikirkan seseorang dan berharap bisa hidup bersama dengannya. Aku selalu berpikir berlebihan. Bagaimana jika yang ekspektasi akan menjatuhkanku lagi? Bagaimana jika yang aku lakukan tidak bisa membuat mereka bahagia? Bagaimana jika aku mengecewakan orang lain?
Tetapi sekarang aku memilih untuk tidak sibuk dengan 'bagaimana jika' lagi. I have to take my time and do what I think it is right. Aku harus memberi porsi untuk diriku juga, tanpa terbebani dengan apa yang orang lain akan pikir dan rasakan.

Well, karena sekali lagi, untuk membahagiakan orang lain, kita harus bahagia dulu. Then I do it.


Jalan Yang Kita Pilih

Bismillah.
Aku suka menuliskan ini: hidup selalu dipenuhi keraguan, kadang kita menang, kadang juga kalah.
Iya.. bagiku hidup lebih banyak tentang bagaimana kita memenangkan diri sendiri. Bagaimana kita selesai dengan diri sendiri. Sebagai seorang manusia, banyak hal bisa saja membuat kita ragu, entah kecil entah besar. Kadang kita bisa meyakinkan hati dari dalam diri sendiri, kadang kita butuh orang lain. Itu memenuhi aspek kebutuhan sosial.

Menjadi ragu bagi manusia adalah lumrah. Tetapi terlalu banyak keraguan bisa jadi bumerang yang mematikan.

Suatu hari kita tersesat dalam sebuah hutan, setelah berjalan cukup jauh, mengikuti jalan satu arah, kita menemukan sebuah persimpangan. Satu mengarah ke kiri dan satu mengarah kie kanan. Kita dipenuhi banyak keraguan karena jikalau salah, alih-alih pulang, kita justru akan tersesat semakin jauh. Untuk itu kita mempertimbangkan dengan matang mana jalan yang hendak kita pilih.

Terlalu menuruti rasa ragu akan membuat kita berhenti di titik persimpangan itu. Tidak ke mana-mana. Berdiri dengan dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan. Bagaimana jika, bagaimana jika. Terlalu sembrono bisa membuat kita salah memilih jalan, yang seharusnya ke kiri malah ke kanan dan sebaliknya. Akhirnya kita tidak punya pilihan lain kecuali memikirkannya dengan hati-hati dengan segenap pengetahuan yang pernah kita dapatkan. Memperhatikan posisi matahari, arah angin, keadaan jalan dan banyak lagi.

Mempertimbangkan dengan hati-hati bukan berarti larut dalam pemikiran tanpa ekseksusi. Mempertimbangkan adalah salah satu ikhtiar mendapatkan yang terbaik. Secukupnya saja. Jika keraguan masih ada, lawan. Enyahkan.

Pertimbangan itu lantas mengantar kita pada langkah-langkah maju ke salah satu arah. Kita berjalan ke sana dengan keyakinan, meski di tengah keraguan pasti akan tetap tumbuh kembali. abaikan saja. Segera setelah kita memilih suatu jalan, maka kita tidak bisa menghindari dua hal: konsekuensi buruk dan konsekuensi baik.

Seandainya, jalan yang kita pilih ternyata benar, maka itu adalah keuntungan. Dan itu yang terbaik untuk kita. Dan seandainya, jalan yang kita pilih salah, percayalah di sana pasti ada pembelajaran. Setidaknya itu lebih baik daripada terus bimbang di tengah hutan. Setidaknya, jalan yang kita ambil tetap menuju pada suatu tempat. Jika tidak pulang, maka kita menemukan hal baru untuk dijelajahi. Lingkungan baru untuk dipelajari. Jadi tidak ada yang sia-sia dari berhasil pulang atau menuju ke arah yang berlawanan.

Yang jelas, ke manapun kita berjalan, ada satu hal yang bisa membuat kita tenang, Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Jika kita menuju arah yang benar, itu karena kehendakNya, jika kita menuju arah yang lain, itu juga karena kehendakNya.

Yang perlu kita lakukan, hanya terus berusaha melakukan yang terbaik. Jatuh dalam penyesalan berlarut-larut bukan sesuatu yang bijak. Jadi, mari temukan jalan kita, jalani sepenuhnya. 

Tips & Trick Skripsi Part 2 -- Cara Mendapatkan Judul yang disukai Semua Dosen

Skripsi itu cari masalah!

Ya memang. Skripsi adalah proses mencari masalah di lingkungan sekitar kita yang kemudian kita teliti dan temukan solusinya. Mulia banget ga sih tujuan skripsi kalau begitu? :D