Meramu

MERDABA ~ Meramu Damai Bersama

SASTRA

Goresan Tinta Cerpen dan Puisi

BOOK CORNER

Temukan Rekomendasi dan Review Buku dari Meramu.com

SEPUTAR ISLAM

Artikel Seputar Islam.

Biology Corner

Belajar Biologi Bersama

Showing posts with label manipulasi. Show all posts
Showing posts with label manipulasi. Show all posts

(SUROSO 8) TEGURAN DARI ATTA NOUMAN

Suroso sudah berada dalam setelan jasnya ketika Narendra mengetuk pintu kamar bertuliskan angka 101 yang bercat peach itu.
“Masuk saja.“ ucapnya dari dalam, terdengar pelan di luar.
“Saya sudah siap untuk berangkat.“ ucapnya lagi.
“Baiklah. Sebelum berangkat kita memiliki jadwal sarapan pagi terlebih dahulu. Pak Malik dan Mr. Ferdinand sudah menunggu di bawah. Sesuai pesanan Ibu Wakil Presiden kepada kedutaan, kami menyiapkan makanan yang rendah kolesterol demi menjaga kesehatan Bapak Presiden.“ Sahut Narendra.
Suroso mengangguk. Dia setuju saja, “di luar forum resmi, panggil saya Bapak atau apalah terserah. Tidak usah ada embel-embel presiden.“
“Baiklah.. Gus!“
 Dua laki-laki terpaut usia 32 tahun itu kemudian berjalan beriringan menuju elevator. Tak perlu waktu lama untuk sampai di lantai satu. Suroso dan Narendra segera bergabung dengan Malik dan Ferdinand di meja makan. Mereka menyantap sarapan pagi dengan penuh semangat. Suroso tidak pernah suka membiarkan prosesi makan menjadi sepi, ia sepakat bahwa saat makan hendaknya orang tidak bicara, tetapi ia enggan dengan keheningan yang hanya diisi oleh suara sendok yang beradu dengan piring. Di sela-sela suapan, ia memilih membicarakan kesiapannya untuk berpidato di Milennium Summit satu jam lagi.
Malik, Ferdinand, dan juga Narendra memberikan umpan balik yang positif terhadap pembicaraan itu. Malik mengatakan bahwa ia sangat berharap Milennium Development Goals (MDGs) yang segera lahir di Milennium Summit nanti akan menjadi solusi yang baik untuk mengentaskan masalah global yang ada. Tentu saja, dia dengan sikap kritisnya tidak mau berharap terlalu banyak, “Selama ada usaha, pasti ada hasil, entah berapa persen tingkat keberhasilannya. Dan semoga forum ini dengan gagasannya adalah solusi yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi.“ ucapnya.
Semua orang di meja makan mengangguk, kecuali Suroso. Ia tetap berwajah tenang dan tanpa ekspresi “Tentu saja“ jawabnya enteng.
“Mohon maaf atas pertanyaan ini, tetapi saya penasaran kenapa Gus Sur memilih untuk menginap di Green Meadows daripada di Gedung United Nation Plaza. Dengan berbagai pertimbangan, tentunya akan lebih mudah jika Bapak menginap di sana.“ Narendra menatap Gus Sur. Ia mengharapkan jawaban yang panjang dan penuh pertimbangan logis.
“Saya tidak suka menjadi terlalu resmi.“ Suroso menjawab singkat, ia kemudian tertawa.
“Kau seperti tidak tahu Presiden kita saja Ren“ Malik menepuk pundak Narendra yang duduk tepat di sebelahnya.
Narendra tertawa, “Tidak salah apa yang mereka tulis di koran-koran“ ia membatin, dan cukup bersyukur karena ia bisa bertemu Suroso yang sama sekali tidak menampakkan kesan horror meskipun sedang berada di posisi yang memungkinkan dia menjadi diktator.
Tak lama setelahnya, mereka beranjak meninggalkan meja makan. Mobil yang akan mengantarkan mereka ke Markas besar PBB sudah menunggu di depan pintu utama Green Meadows.                                                                                                                                                     
“We are heading to 760 United Nation Plaza New York, New York 10017, Headquarters of the United Nations, right?“ ucap supir kepada Narendra yang duduk di bagian depan.
“Yes, that`s right!“ sahut Narendra.
“It takes 15 minutes from here. Please have a good seat and make yourself comfort. “
“For sure.“ Narendra menimpali.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan kota New York yang dipadati bangunan bertembok. Kehidupan kota New York lebih modern dibandingkan Indonesia yang masih mencoba merangkak, kemajuan kentara sekali telah menyentuh kota ini sejak lama. Ada banyak gedung tinggi menjulang. Letak bangunan, sungai, dan pepohonan  yang serasi menunjukkan tata kota yang ideal.
Setelah hampir 15 menit berlalu, dari kaca jendela mobil, Malik dapat melihat Markas Besar Perserikatan Bangsa Bangsa yang megah. Bangunan itu didesain oleh arsitek Brazil, Oscar Niemeyer. Bendera-bendera negara anggota berjajar rapi di pelatarannya, berkibar-kibar di tiup angin. Menambahkan kesan sakral. Sungai East yang berseberangan dengan gedung 39 lantai itu menambah daya tarik tersendiri bagi keindahan gedung PBB.
Begitu turun dari mobil, Suroso dijemput oleh petugas berpakaian serba hitam dengan sikap yang sangat resmi. Mereka mengarahkan Suroso untuk menuju ruang Milennium Summit. Sementara itu, Ferdinand, Malik, dan Narendra diarahkan untuk melihat-lihat kebun di pelataran depan dan ruang-ruang Markas PBB sembari menunggu konferensi berlangsung.
“Take your time. We really are okay to look around. “ ucap Ferdinand kepada Suroso.
Suroso berjalan dengan dampingan petugas, memasuki sebuah ruangan dengan dua buah pintu berwarna coklat tua yang besar. Ruangan itu telah penuh dengan para pemimpin tertinggi dari 149 negara dan beberapa delegasi lainnya. Mereka berbicara dalam bahasa universal, Inggris, dengan berbagai aksen yang khas.
“Pleased to meet you again Sur! It must be hard for you to lead a new-born country. You know what I mean new-born right! “ ucap salah seorang petinggi negara yang duduk di samping Suroso. Petinggi itu memiliki postur tubuh dad-bod dan rambut yang hampir semuanya memutih. Ia sedikit pendek dan berwajah bulat.
“It is not hard at all. I faced some critical stage and got some pressure at times but still everything is okay! “
Si pria dad-bod tertawa, “Good Man!“
Suroso ikut tertawa, ia dan pria dad-bod itu berbicara seperti sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu.
Ruangan besar dengan tirai biru di beberapa sisi yang menjadi tempat konferensi mendadak hening ketika pemandu acara mulai mengucapkan salam pembuka melalui pengeras suara. Ia adalah seorang perempuan dengan tubuh semampai yang dibalut blazer hitam elegan dan rok hitam selutut. Wajah orientalnya nampak serasi dengan potongan rambut sebahu. Ia terlihat sangat percaya diri dan terlatih untuk menjadi MC di forum-forum bertaraf internasional.
Wanita pemandu acara itu membuka acara dengan sebuah prosesi resmi, kemudian ia  memberikan kesempatan kepada para petinggi negara untuk mendiskusikan berbagai persoalan terkait masalah global. Krisis ekonomi yang belakangan terjadi telah memperburuk keadaan beberapa negara, utamanya negara dengan predikat berkembang. Untuk alasan itulah para petinggi itu sekarang berkumpul.
Dalam konferensi yang telah berlangsung hampir sehari, mereka kemudian mengerucutkan beberapa poin untuk dijadikan fokus utama permasalahan global yang harus segera ditangani. Poin-poin itu dimuat dalam Deklarasi Milennium yang mereka sebut sebagai MDGs. Sebelum konferensi ditutup, pemandu acara wanita itu mempersilahkan perwakilan pemimpi tertinggi negara untuk memberikan pidatonya.
“We have to take real actions for what we have declared. Reducing extreme poverty and making a series of time-bound targets by year of 2015 as a success will only be able to achieve by our good partnership and bound.“ Suroso berdiri di atas podium, memberikan pidaatonya di depan semua peserta konferensi. Ia mendapat kehormatan tersebut karena sepak terjangnya dalam memperjuangkan hak asasi dan kesetimpangan sudah dikenal luas. Kalimat terakhirnya segera disambut dengan tepuk tangan meriah dari berbagai sudut ruangan.
Suroso meletakkan microfon. Dengan dampingan petugas, ia diantar kembali duduk ke tempatnya semula.
“Great!“ ucap si pria dad-bod kepada Suroso yang ditanggapi dengan senyuman.
Setelah Suroso duduk dan forum kembali tenang, pemandu acara yang baru saja naik ke podium mempersilahkan pembicara berikutnya untuk naik ke atas panggung.
Seorang pria berperawakan jangkung dengan tubuh tegap dan berisi berdiri dari barisan kursi depan. Ia membungkukkan punggung ke beberapa arah sebagai tanda hormatnya kepada peserta Milennium summit. Kulitnya hitam khas orang Afrika. Rambutnya yang keriting dipotong tipis ala tentara dan seluruhnya berwarna putih.
Pria itu memiliki mata yang tajam dan sangat berkharisma. Ia melangkah menuju podium dengan jenjang kaki yang panjang dan langkah yang tegas. Ia adalah Sekretaris Jenderal PBB, Atta Nouman.
Dalam pidatonya yang bergelora, Atta Nouman mengungkapkan rasa terimakasihnya atas kepedulian peserta yang hadir di Milennium Summit terhadap krisis kemanusiaan yang ada. Dia juga berbicara mengenai pentingnya menjaga ketertiban hidup bersama dan mengeluhkan satu hal yang baru saja terjadi,
“I do proud that all of us are here to find a decent solution for the global problems. But I fell in the deep sorrow that three of United Nation workers were killed in Indonesia recently.“ Atta Nouman mengucapkan dengan penuh tekanan di setiap kalimatnya.
Mendengar pidato Atta Nouman, semua pandangan peserta yang hadir segera tertuju kepada Suroso dengan tatapan yang terasa sekali seperti sebuah cacian tak bersuara. Suroso tertegun beberapa saat. Dia baru mengetahui peristiwa itu dari Atta Nouman. Suroso sangat terkejut dan merasa sedang dipermalukan, tetapi dia masih belum bisa memberikan respon apapun, tidak selagi Sekjen PBB masih dan sedang berbicara.
“This tragedy underlines once again the dangers faced by unarmed humanitarian workers serving the united nations in conflict or post-conflict situations. The Security council, and I, my self, have repeatedly expressed concern about the safety of United Nations personnel in the field, both military and civilian“ Atta Nouman melanjutkan pidatonya.
Setiap kata yang dikeluarkan Atta Nouman seperti pedang yang ditusukkan berkali-kali kepada Suroso. Pria yang dua tahun lebih muda dari Atta Nouman itu merasa semakin dipermalukan. Dia merasa tidak ada ruang baginya untuk bernafas. Dia tahu semua –atau paling tidak sebagian besar– yang hadir di konferensi itu saat ini tengah melihatnya dengan pandangan merendahkan. Ia seperti anak burung merpati yang baru saja belajar terbang dan dipuji, lalu tiba-tiba jatuh dan dicaci.
Dalam kekalutannya berpikir, dan posisinya yang terpojok, Suroso segera tahu bahwa peristiwa pembunuhan pekerja PBB pasti ada kaitannya dengan lawan-lawannya di tanah air. Tetapi dia tak punya bukti dan tak ada baiknya menyanggah ketika semua kesalahan telah ditujukan kepadanya.
Dalam sedikit kesempatan yang diberikan kepadanya untuk berargumen, Suroso hanya menyatakan permintaan maafnya dan mengatakan bahwa ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Suroso kemudian menegaskan bahwa ia akan melakukan usaha maksimal untuk menangkap pelaku pembunuhan di daerah konflik tersebut.
Tetapi api telah disulut dan permintaan maaf tidak dapat dengan mudah menyelesaikan masalah. Permintaan maaf yang tulus dari Suroso benar-benar tidak merubah apapun. Banyak mata masih memandangnya dengan tatapan menghina dan Atta Nouman masih sangat kecewa kepadanya. Nama Suroso benar-benar jatuh ke titik terendah di mata dunia.
Sampai konferensi berakhir, Suroso masih sangat berusaha untuk terlihat tegar dan kuat. Dia mencoba menampakkan diri sedang dalam kondisi baik, meskipun hatinya sedang hancur lebur. Ia keluar forum dengan dipapah seorang panitia lokal.
Ferdinand telah mendengar berita pembunuhan dari informannya di Jakarta. Bersama dengan Malik dan Narendra, ia menunggu Suroso di lobi depan dengan perasaan sangat khawatir, dia terus mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai dan memasang wajah tegang.
“He must be okay! Trust me. Nothing will going wrong.“ sesekali Malik berusaha menenangkan, meskipun ia sendiri sebenarnya juga sangat khawatir. Tetapi Malik adalah Malik, seseorang dengan pembawaan santai dan ceria. Ia tak begitu suka menampakkan keresahannya di depan publik, dan ia cenderung optimis tentang apa yang sedang dan telah terjadi. Ia tak pernah memiliki alasan untuk terpuruk meskipun keadaan sedang buruk-buruknya.
Sementara itu, Narendra hanya diam mematung, ia sadar diri bahwa ini bukan ranahnya untuk berbicara panjang lebar. Jika ia berbicara, bisa saja apa yang diucapkannya salah dan justru semakin memperkeruh suasana. Jadi dia diam saja.
Dalam ketegangan pikiran, Suroso nampak berjalan di koridor dari arah ruang pertemuan. Lelaki berusia 60 tahun itu terlihat pucat dan lelah.
Malik, Ferdinand, dan Narendra segera menghampirinya.
“I am fine! Let`s go back to Green Meadows.“ ujar Suroso kepada 3 rekannya, lebih pada kata-kata menghibur daripada menyatakan keadaannya yang sesungguhnya.


***

(SUROSO 7) NARENDRA SOFYAN

Suroso dan rombongannya telah mendarat di Bandara John F Kennedy jam 10 p.m waktu setempat. Setelah mengurus surat-surat di bagian imigrasi dan mengambil baggage, rombongan itu segera melaju ke penginapan yang telah dirujuk oleh panitia lokal. Seorang utusan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Amerika memandu mereka menemukan lokasi penginapan dengan mudah dan cepat. Utusan itu adalah seorang pemuda bertubuh jenjang dan kulit kuning langsat serta rambut yang disisir dengan gaya side part.
“Perkenalkan nama saya Narendra Sofyan, utusan dari KBRI untuk menjadi pemandu Tuan-Tuan sekalian selama berada di Negeri Paman Sam ini. Jangan sungkan-sungkan untuk meminta sesuatu jika ada yang Tuan-Tuan butuhkan.“ Pemuda itu memperkenalkan diri dengan gaya yang sopan dan senyum yang ramah. Ia nampak sangat terlatih dalam melakukan pekerjaan semacam itu.
“Jadi Anda terbang dari Washington ke New York hanya untuk memandu kami?“ Suroso menyahut.
Narendra tersenyum, “Sebenarnya saya tinggal di New York. Saya masih aktif sebagai mahasiswa di Columbia University, sehingga pekerjaan saya di KBRI hanya sebatas informan dan jurnalis. Dan mendapat tugas untuk memandu Tuan-Tuan sekalian di kota ini, saya sungguh merasa terhormat.“
“Tentunya kau adalah pemuda yang berbakat.“ Malik menyahut.
“Terimakasih Tuan. Tetapi sangat jauh dari Tuan Malik.“ timpal Narendra.
Dalam perjalanan menuju Green Meadows Inn, tempat menginap bagi rombongan Suroso, Narendra dapat membaur dengan baik bersama para tamu-tamunya tanpa sedikitpun merasa canggung ataupun sungkan. Ia bertukar banyak informasi dengan para tamunya mengenai aktivitas KBRI di Amerika Serikat dan perkembangan kedaaan sosial politik Amerika beberapa tahun terakhir. Sebagai seorang akademisi muda yang peduli pada isu-isu sosial, Narendra dapat mengimbangi percakapan lawan bicaranya dengan sangat baik.
“Sepertinya peristiwa teror berentetan yang terjadi di tahun kemarin telah mempengaruhi sikap pemerintah AS terhadap muslim di sini.“ ucap Ferdinand yang duduk di kursi bagian tengah bersama Suroso.
“Tepat sekali Mr. Ferdinand.“ Narendra, yang duduk di kursi samping supir menyahut. Ia menoleh ke belakang agar dapat melihat wajah Ferdinand, ia perlu melakukan itu sebagai tanda penghargaan dan rasa hormat, “Presiden Bill sangat geram dengan aksi para milisi. Dua aksi penembakan yang terjadi di Illinois dan Los Angeles tahun lalu memakan 4 korban meninggal dan beberapa luka-luka. Kasus terakhir adalah Arson[1] yang dilancarkan Earth Liberation Front di Michigan yang untungnya tidak menelan korban. Dan peristiwa-peristiwa itu sangat mempengaruhi sikap mereka terhadap muslim minoritas di sini. Tidak ada peraturan khusus yang kemudian sangat menekan, tetapi sikap yang mengindikasikan fobia dan rasa benci dapat kami rasakan dari beberapa pihak.“ Narendra melanjutkan.
“Sejauh yang saya ikuti, aksi-aksi tersebut masih berkelindan dengan satu kelompok di Timur Tengah.“ Malik menyahut, ia merasa prihatin dengan peristiwa-peristiwa serupa yang mengatasnamakan jihad, “Saya sangat memaklumi dan dapat memahami rasa takut dan fobia masyarakat dunia terhadap Islam jika hal seperti itu terus saja terjadi.“ Ia melanjutkan.
“Ada cerita menarik ketika saya masih belajar di Pennsylvania. Waktu itu para milisi Islam sedang semangat-semangatnya bergerak. Mereka melancarkan aksi terorisme di beberapa daerah. Meskipun alat informasi tidak secanggih sekarang, tetapi orang-orang Philadelpia sangat giat mengikuti perkembangan berita internasional melalui media yang ada kala itu. Mereka tidak mengalami atau menyaksikan sendiri aksis teror yang terjadi, tetapi mereka turut merasakan ketakutan dan tekanan. Salah seorang teman yang sedikit usil melihat situasi itu sebagai sesuatu yang lucu. Dia dengan sengaja memakai jubah putih dan surban di pundak, lalu berjalan-jalan di tengah kota sembari menenteng ransel hitam. Sesekali, dia melemparkan ranselnya ke arah kerumunan orang banyak, ke pejalan kaki di trotoar, dan bahkan juga ke muda-mudi yang sedang pacaran. Dia terpingkal berkali-kali melihat orang lari tunggang langgang seperti sedang menerima paket bom. Terakhir, dia melemparkan ranselnya ke halaqoh kecil di suatu masjid. Peserta halaqoh juga tak kalah bersemangat lari menjauhi ransel seperti sedang menghindar dari serangan bom.“ Suroso berhenti. Semua yang ada di dalam mobil tertawa, kecuali supir lokal yang tidak mengerti pembicaraan mereka.
“Kemudian apa yang terjadi dengan teman Anda itu Gus?“ Malik bertanya setelah ia berhenti tertawa.
“Dia ditangkap dan diinterogasi oleh pihak berwenang. Bahkan hak belajarnya terancam dicabut. Nah gara-gara ditangkap itu dia menghubungiku dan meminta bantuanku untuk berurusan dengan aparat-aparat yang menakutkan itu.“
Tawa meledak lagi, “Bagaimanapun, terorisme adalah masalah kompleks. Dan mungkin saja tidak lepas dari campur tangan pihak-pihak berkepentingan.“ Suroso menambahi, kali ini dengan lebih serius.
Mobil yang mengantar Suroso dan rombongannya sudah tiba di pintu masuk utama Green Meadows Inn. Suroso turun dengan dipapah oleh Malik. Disusul dengan rombongan lainnya. Sementara mobil menuju tempat parkir yang terletak di lantai dasar, Narendra membimbing Suroso dan rekan-rekannya berjalan ke lobi untuk check in.
Suroso berbaring di kamarnya. Perjalanan dari Bandara ke Green Meadows memakan waktu 30 menit. Ia sangat lelah dan mengantuk setelah perjalanan yang cukup panjang sejak hari kemarin. Tetapi agaknya ada sesuatu yang ia pikirkan sehingga dia tidak bisa tidur sampai pukul 2 dini hari.

***



[1] Pembakaran secara sengaja

(SUROSO 6) PRIA FLAMBOYAN

Jakarta, waktu yang sama
Seorang pria berseragam batik coklat memasuki Cafe Phoenam tak jauh dari gedung MPR. Wajahnya nampak sedikit cemas tetapi tak terlihat jika tak diperhatikan dengan jeli. Kecemasan itu tertutup oleh sikap tenangnya. Pria itu memilih tempat duduk di pojok, menghadap keluar jendela, sehingga nampak olehnya kendaraan yang berlalu-lalang dan juga hydroponik yang bergelantungan di beranda Cafe. Diraihnya buku tebal bergambar sampul 2 laki-laki dan 2 perempuan yang sedang menaiki cikar di rak buku tak jauh dari tempat ia duduk.  Rak itu sengaja disediakan oleh pemiliki Cafe sebagai bacaan pengunjung. Ia kemudian memanggil pelayan, memesan segelas jus alpukat dan kopi hitam kental tanpa gula.
Setelah pelayan pergi, pria itu bergegas melihat layar ponselnya. Ia menulis beberapa karakter di pesan singkat lalu mengirimkannya kepada kontak bernama Bondan. Sejurus kemudian ia mulai membaca lembar pertama buku di tangannya.
“Kau bisa meletakkan buku karya Pram itu dan memulai pembicaraan kita.“ seorang pria bertubuh gempal dan berotot yang baru saja memasuki cafe duduk di hadapan si pria berseragam batik. Pria gempal itu berpakaian biasa, celana jeans panjang dengan bagian lutut bolong dan kaos pendek berkerah warna abu-abu. Suaranya sedikit berat dan serak.
“Kau tau waktuku tidak banyak.“ si pria berseragam menyahut.
“Maafkan aku. Aloe menahanku untuk pergi karena hari ini adalah waktu liburku.  Dia memintaku tetap tinggal bersamanya di rumah“
“Bondan. Bondan. Masih saja kau tidak bisa bersikap tegas kepada istrimu. Kau tau laki-laki bebas menentukan pilihannya, seharusnya kau menekankan itu kepada Aloe“, si pria berseragam menutup bukunya dan meletakkannya di meja. Ia menyeruput jus alpukat, “Bagaimana persiapan yang sudah kau lakukan?“
 “Semuanya beres. Tinggal eksekusi.“, Bondan melirik segelas kopi yang masih mengepulkan asap di depannya, “Itu untukku?“ ia menatap si pria berseragam.
“Untuk siapa lagi. Aku tidak pernah meminum sumber kafein itu.“ si pria berseragam menyahut cepat.
Bondan tersenyum. Ia meminum sedikit kopi lalu meletakkannya lagi di atas meja, “Pahit. Seperti ucapan pria berkelas di depanku ini“.
Si pria berseragam nampak acuh, ia tidak peduli dengan ucapan rekannya.
“Sasaran kita sudah terbang ke NYC satu jam yang lalu. Itu artinya paling lambat besok, di jam yang sama, dia sudah berada di Amerika. Kita biarkan dia beristirahat selama 7 jam, untuk membiarkan laki-laki tua itu berspekulasi dengan pujian-pujian yang akan diterimanya. Sementara dia beristirahat, kita lancarkan aksi ke zona X. Dan kita akan segera melihat hasilnya melalui media-media asing.“ ucap si pria berseragam, sesekali ia menengok ke kiri dan menoleh ke belakang, memastikan bahwa tidak ada orang yang akan mendengarkan pembicaraannya dengan Bondan.
“Aku mendengar kabar tadi malam Nuha terbang ke Dili, ikut pesawat carteran Reuters. Jika kabar itu benar, itu artinya dia akan meliput banyak hal terkait aksi-aksi di zona sasaran kita.“ Bondan memasang wajah datar, atau sebenarnya Bondan memang selalu berwajah datar, tidak pernah menampakkan ekspresi apapun. Senang susah sama saja. Setelah sejenak mengamati perubahan wajah lawan bicaranya, Bondan melanjutkan bicara “dan kita tahu bagaimana Nuha. Kita tidak bisa meremehkannya hanya karena dia masih bocah dan dia adalah seorang perempuan.“
“Memangnya apa yang bisa dilakukan jurnalis seperti Nuha? Dia hanya akan menulis dan paling mentok mengecam. Asal eksekusi berjalan sesuai rencana, tidak akan ada yang tahu campur tangan kita di zona X“ si pria berseragam menjawab dingin, “Yang terpenting, jangan ceroboh. Lakukan semua sesuai perintah. Aku tidak mau ada jejak“ dia mengecilkan suaranya, memberikan penekanan di setiap kalimat.
“Baiklah.“ Bondan kembali meminum kopinya, “Kau tahu resiko pekerjaan ini tidak kecil kan? Tentu saja aku akan melakukan setiap detailnya dengan hati-hati. Tetapi siapa yang bisa menjamin eksekusi akan berjalan lancar sesuai dengan yang telah direncanakan. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Aku mau kau bertanggung jawab penuh atas Aloe dan Fredi jika sesuatu terjadi, urus mereka dengan baik. Dan sebagai imbalannya, namamu akan tetap bersih.“ Bondan memandang si pria berseragam dengan tatapan tajam.
Pria di depannya terkekeh, “Bondan! Bondan! Kenapa kau berbicara seolah-olah umurmu tinggal sehari! Aku pastikan kau akan berjumpa dengan Aloe dan putramu itu lagi. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.“ Si pria berseragam kembali duduk dengan tenang. Ia menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri, berbicara dengan serius dan volume suara yang kecil “Kau tau siapa aku! Kalaupun sesuatu yang buruk terjadi, aku akan dengan mudah membersihkan namamu dan mengeluarkanmu dari hotel prodeo. Apa lagi yang kau khawatirkan?“ Pria itu meminum separo jus Alpukatnya lalu meletakkannya kembali di meja.
Setelah membenahi kerah baju dan memastikan bahwa seragam yang dikenakannya masih rapi, ia berdiri, “Habiskan kopimu. Aku akan ke kasir dan kembali ke kantor.“ Tanpa menunggu jawaban dari Bondan, ia segera beranjak menuju kasir, menyerahkan selembar uang 50an, lalu berjalan ke arah pintu keluar Cafe Phoenam yang berbahan kaca.
“Kenapa mereka susah-susah memasang pintu putar ini, membuang waktu saja“ pria berseragam itu menggumam kesal. Ia terlihat kesusahan dan tidak sabaran melewati pintu putar yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari cafe Phoenam. Selain tidak praktis, baginya pintu putar adalah hal yang menyusahkan. Dia tidak tahu, bahwa niat pemilik cafe memasang pintu itu adalah untuk efisiensi pemakaian AC dan menjaga kualitas udara.
Pria berseragam itu kemudian terlihat menyeberang jalan dengan tergesa. Tanpa lupa mengecek ulang kerapian bajunya setiap beberapa menit sekali, ia terus berjalan menuju pintu utama gedung MPR, dan kemudian lenyap tak terlilhat.
“Dasar pria flamboyan! Pantas saja dia digandrungi banyak wanita“ Bondan berbisik pada dirinya sendiri. Sedari pria berseragam itu berdiri dari tempat duduknya sampai lenyap di pintu gedung MPR, Bondan tak berhenti menamatinya. Barulah setelah pria itu tak terlihat, Bondan kembali melirik kopinya. Untuk beberapa lama, Bondan masih setia menikmati kopi yang tinggal setengah gelas. Jari-jarinya yang pendek dan gemuk diketuk-ketukannya pada meja kotak berbahan kayu di depannya. Setelah meneguk cairan kopi yang terakhir dan merenung beberapa saat, ia lantas beranjak pergi.


***

(SUROSO 5) TIDAK ADA LAWAN DAN KAWAN ABADI, YANG ADA HANYA KEPENTINGAN ABADI

Selasa, Awal September 2000
Ibu kota selalu menjadi kawasan yang sibuk. Ia tak pernah absen dari para urban yang setiap lebaran usai – berdatangan seperti jamur di musim hujan. Sebagian dari mereka tak memiliki perbekalan cukup sehingga ketika tiba di Jakarta terkatung-katung dan tak memiliki tujuan jelas.
Lain lagi dengan yang sudah terkoneksi dengan orang-orang tertentu, mereka akan dapat bertahan hidup dengan kehidupan ibu kota yang hedon dan memiliki pekerjaan mapan. Hanya satu hal yang perlu mereka hadapi, persaingan yang ketat dan lingkungan kerja yang berpotensi saling menjatuhkan. Lingkungan kerja seperti itu yang dihadapi hampir oleh semua orang. Terlebih orang-orang yang memilih berada dalam lingkaran politik,
“Tidak ada lawan ataupan kawan, yang ada hanya kepentingan abadi.“
“Apa benar demikian?“
“Mari kita lihat saja.“
“Lalu apa kita bukan kawan?“
“Bukan. Kita adalah kepentingan yang saling mementingkan.“
“Itu terdengar baik.“
Dua orang paruh baya yang terhubung lewat telepon seluler itu terkekeh.
“Bagaimana keluarga di Solo?“
“Alhamdulillah. Kami semua sehat.“
“Senang mendengarnya“
“Semoga keluarga di Jakarta juga demikian.“
“Diah dan anak-anak semuanya sehat dan dalam keadaan baik“
“Syukurlah. Apa kepala negara sangat longgar sehingga bisa bertelepon selama ini?“
Terdengar gelak tawa di telepon, “Saya lebih khawatir pembicaraan kita yang tidak penting ini disadap daripada mengkhawatirkan waktu longgar.“
“Baiklah. Mari kita tutup telepon sebelum kekhawatiranmu terjadi.“
Setelah menjawab salam, Suroso meletakkan ponsel di atas meja kerjanya yang penuh buku. Ia memutar kursi kerjanya ke samping kanan dan kiri. Sudah lama sekali ia tidak berjumpa dengan Harun, sahabat karibnya yang lebih memilih berkecimpung di dunia sastra daripada terjun ke politik praktis.
“Aku tidak bisa menari dengan baik di panggung politik. Bisa saja sekali melangkah aku langsung tersandung dan jatuh. Biarlah itu menjadi porsimu. Aku di sini saja. Menjalani kedamaian bersama kitab-kitab kuning dan puisi-puisiku.“ Ucap Harun kepada Suroso 32 tahun silam.
Ketika itu mereka berdua adalah mahasiswa Universitas Baghdad yang tengah asyik menyeduh kopi di pinggiran sungai Tigris. Sungai yang mengalir dari Pengunungan Taurus di bagian timur Turki itu selalu menjadi rujukan bagi para mahasiswa atau seniman di Baghdad untuk berkumpul, mengadakan diskusi-diskusi intelektual. Kedai-kedai kopi di sepanjang sungai Trigis menawarkan akomodasi yang mendukung mereka untuk selalu datang di malam hari. Terlebih, pantulan cahaya rembulan di atas beriak air sungai yang membias menjadikan pinggiran sungai Tigris adalah tempat yang indah untuk dikunjungi dan patut dirindukan.
“Katakan padaku Run, apa sastra selalu lebih menentramkan dari politik?“ Suroso bergumam seorang diri. Ia tidak membutuhkan jawaban, ia hanya merindukan sahabatnya itu. Percakapan di telepon yang rutin mereka lakukan tidak cukup untuk memutuskan kerinduan.
“Rindu adalah hukumanku karena memiliki sahabat sepertimu Sur, yang sibuk sendiri dan selalu dirisaukan urusan kemanusiaan sampai lupa makan.“ Suroso tertawa mengingat ucapan Harun.
Pukul 9 lebih 27. Seorang staf memasuki kantor Suroso, mengatakan bahwa Rabu besok presiden ada jadwal layatan ke New York untuk menghadiri Pertemuan Puncak Millenium.
“Tiket pesawat dipesan jam 11.30. Mobil dinas sudah siap, tinggal menunggu instruksi Anda untuk berangkat.“ ucap si staf laki-laki bertubuh jangkung yang mengenakan seragam hitam.
“Yasudah, ayo berangkat. Saya sudah siap. Siapa lagi yang perlu ditunggu“
  Mobil RI 1 segera melaju ke Bandara Soekarno Hatta. Dalam layatan kali ini, Suroso mengajak Ferdinand dan Menteri Luar Negeri –Malik Syadzili– untuk turut serta.
“Ada banyak yang bisa kau tuliskan dari pertemuan nanti Fer“
“Tentu saja Gus. Saya tidak akan melewatkan apapun“
“Kau harus memastikan itu.“
“Tidak usah khawatir Gus, kita tau kredibilitas Ferdinand. “ Malik ikut menyahut. Rombongan itu tertawa.

Beberapa menit berikutnya, Suroso dan rombongannya sudah duduk di kursi pesawat. Mendengarkan instruksi pramugari tentang safety flight dan terbang menuju Dubai International Airport. 

(SUROSO 1) SUATU HARI PADA TAHUN 2001



-Prolog-

Suatu Hari pada Tahun 2001

Hari-hari itu menjadi hari yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh siapapun juga. Tidak bagi Suroso. Bagi istrinya. Anak-anaknya. Sahabat dekatnya. Atau bahkan bagi lawan-lawannya sekalipun. Bedanya, Suroso dan orang-orang terdekatnya mengingat peristiwa yang berentetan itu sebagai sesuatu yang sedikit tidak enak untuk dikemas sebagai cerita. Dan lawan-lawannya mengingatnya sebagai sebuah kemenangan telak. Keberhasilan yang cemerlang.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, atau mungkin tidak terlalu panjang dalam siklus pemerintahan, lawan-lawan politiknya berhasil memakzulkan seorang Suroso dari kursi kepresidenan. Orang-orang  yang berseberangan dengan Suroso sudah merencanakan kejatuhan itu sejak awal Suroso menjabat. Bahkan ketika perhitungan suara baru selesai dan Suroso belum dilantik mereka sudah merencanakan semua itu. Mereka telah dengan sangat gigih menyusun strategi-strategi dan dengan ajeg menggulirkan isu-isu negatif untuk memperburuk citra Suroso di depan publik. Tentu saja hal seperti itu tak mudah dilakukan. Perlu meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga lebih. Dan tentu saja, hanya orang-orang cerdas, berkelas, dan punya kedudukan yang bisa menyusun strategi seapik dan serapi itu. Kalau tidak, dapat dipastikan usaha-usaha mereka tak akan berhasil.
Mula-mula, para elit senayan menuduh Suroso melakukan tindakan serakah. Korupsi bantuan luar negeri dan mengalirkan anggaran bulog ke dalam kantong sendiri. Padahal jelas-jelas Suroso tidak akan doyan memakan barang haram hasil korupsi. Sejak kecil Suroso hidup di pesantren dan sudah sangat hafal ayat-ayat Quran yang melarang manusia budiman mengambil hak orang lain dengan tidak adil. Mulai dari Al Baqoroh 188 sampai Al Maidah 42. Jadi mana mungkin Suroso mendustai hafalannya dengan melakukan tindakan yang bertentangan dari keyakinannya sendiri.
Hanya saja orang-orang elit senayan itu berpikir Suroso sama seperti mereka, yang akan menghalalkan segala cara untuk sekedar menimbun harta dunia. Mungkin juga sebenarnya mereka tahu, bahwa Suroso sangat tidak mungkin berbuat senaif itu. Tetapi apa boleh buat, mereka perlu membuat berita miring agar kejatuhan presiden nampak alami karena ketidakbecusannya sendiri dan bukan rekayasa orang-orang berkepentingan.
Puncaknya, selama sepekan terakhir sebelum Suroso benar-benar jatuh, media massa sibuk membicarakan presiden Indonesia yang kabarnya tengah berdiri di tepi. Sebentar lagi akan terjun bebas ke jurang. Awak-awak media gencar memberitakan kasus Buloggate dan Bruneigate yang katanya didalangi oleh presiden, masyarakat sibuk dengan desas-desus bahwa presiden tidak kompeten dalam menjalankan tugas, pembawaannya terlalu santai, suka seenaknya sendiri dalam mengambil tindakan, dan hobi pelesiran ke luar negeri.
Sementara suhu politik kian memanas dan presiden kian krisis kepercayaan, pejabat-pejabat negara yang duduk di kursi MPR sibuk mengejar sidang istimewa. Para anggota MPR sudah tidak sabar mengganti presiden yang sebentar lagi akan mati karir politiknya itu dengan presiden baru yang lebih mudah diajak berkongsi.
Sebelum pelengseran benar-benar terjadi, ketegangan politik antara Presiden dan para elit senanyan sempat mereda beberapa saat; tepatnya setelah presiden berhasil menggertak dewan MPR dengan mengeluarkan dekrit yang dihitung-hitung dapat membuat usaha menjatuhkan presiden menjadi sia-sia. Dalam kesempatan itu, Suroso akhirnya dapat bernafas lega, negoisasi dan usahanya berhasil, pikirnya.
“Keadaan sudah membaik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Presiden sudah menjauh dari tepi dan Sidang Istimewa tidak perlu digelar“ Begitu ucap salah seorang petinggi Partai Kesejahteraan Umat (PKU) kepada awak TV Belanda yang kebetulan sedang meliput kondisi politik Indonesia.
Namun tidak lama kemudian, di tengah wawancara, -Samad- si petinggi PKU yang namanya tidak kalah tenar dibanding presiden, mendapat panggilan dari Amir, koleganya di PKU. Amir mengajak Samad untuk meninggalkan wawancara sejenak,
“Mohon maaf ada sesuatu yang harus kami bicarakan. Kalian bisa menunggu sebentar dan saya akan segera kembali“, Samad meminta jeda kepada para wartawan.
Ia dan Amir menjauh beberapa langkah dari kerumunan, setidaknya pada jarak yang tidak memungkinkan para wartawan untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. Kedua kader PKU itu tampak serius dengan pembicaraannya, Samad yang postur tubuhnya lebih kecil dari Amir nampak mendongak berkali-kali agar bisa melihat wajah lawan bicaranya dengan jelas. Lima belas menit kemudian Samad kembali menemui wartawan,
“Ada perubahan keadaan. Sidang Istimewa akan dipercepat hari senin depan“, Samad berkata dengan tegas.
Menarik kembali apa yang diucapkannya beberapa menit sebelumnya. Para wartawan yang memang selalu ingin tahu mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Dan Samad sebagai ketua MPR yang dipercaya sebagai sumber valid, membuat para wartawan menjadi semakin penasaran dengan pernyataannya yang tidak konsisten.
Abai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya, Samad dengan dikawal ajudan beringsut menjauh dari wartawan, berjalan dengan penjagaan penuh menuju pintu utama gedung MPR. Setelah pernyataan terakhir ia memilih untuk tidak memberi respon apapun. Ia memilih untuk menjawab setiap pertanyaan dengan tersenyum, senyum datar yang tidak dapat diartikan.
***