Meramu

MERDABA ~ Meramu Damai Bersama

SASTRA

Goresan Tinta Cerpen dan Puisi

BOOK CORNER

Temukan Rekomendasi dan Review Buku dari Meramu.com

SEPUTAR ISLAM

Artikel Seputar Islam.

Biology Corner

Belajar Biologi Bersama

Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

MENGINTISARI FATWA JIHAD KH. HASYIM ASYARI


Hasil gambar untuk kh hasyim asyari

Indonesia adalah suatu negara bangsa dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kemajemukan budaya, agama, ras, dan suku merupakan kekayaan yang telah lama dimiliki Bangsa ini. Kemajemukan itulah yang menjadi ciri khas Indonesia, yang sejak dari dulu masyarakatnya dapat hidup rukun dan damai meski memiliki banyak perbedaan. Namun sayangnya, kemajemukan itu akhir-akhir ini tengah berusaha dikikis oleh kaum puritan yang mengatasnamakan Islam.

Kemajemukan yang dimiliki bangsa ini sedang dalam masa kritis. Gerakan untuk menyeragamkan pandangan menjadi Islam kaffah telah begitu merebak. Gerakan baru yang terkesan bermuatan politis itu begitu digandrungi oleh sebagian masyarakat Indonesia dengan iming-iming jihad fi sabililillah. Gerakan Islam kaffah itulah yang perlahan berusaha menggeser Indonesia dari suatu Negara Kesatuan menjadi Indonesia dengan sistem khilafah islamiyah.

Kaum puritan dengan dalih kembali pada Islam yang haq sebisa mungkin menggeser budaya Bangsa Indonesia yang kaya menjadi budaya Arab tanpa memperdalam bagaimana Islam yang sesungguhnya. Gerakan Khilafah Islamiyah juga telah banyak mengikis semangat nasionalisme masyarakat Indonesia pada jaman ini. Semangat arabisasi telah membuat sebagian besar orang begitu mencita-citakan negara Islam  ala arab dan pesimis terhadap NKRI yang jelas-jelas telah memberikan mereka kelonggaran dalam menjalankan syariat Islam tanpa ada kekhawatiran apapun.

Hal ini tentunya berlawanan dengan semangat perjuangan para pahlawan pada masa kemerdekaan. Termasuk di dalamnya barisan para kiai dan santri. KH. Hasyim Asy’ari salah satunya. Maka dari itu hingga sekarang kalimat Hubbu al wathon min al iman viral di kalangan nahdliyyin untuk tetap meneguhkn sikap cinta tanah air.

Sikap cinta tanah air begitu kentara dari sosok kharimastik KH. M. Hasyim Asy’ari. Beliau pernah memberikan fatwa bahwa perang melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari jihad fi sabilillah.

Apa yang difatwakan oleh KH. Hasyim Asy’ari akan sangat berpengaruh pada moral perjuangan Ummat Islam kala itu. Beliau memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi psikis para pejuang. Jika Beliau memfatwakan perang, maka ummat Islam akan teguh pendirian untuk menjalankan apa yang telah beliau fatwakan. Jika Beliau memfatwakan ummat Islam untuk mendukung Belanda, maka moral dan semangat untuk berjuang itupun akan runtuh. Hal itu pula yang mendasari Bung Tomo dan Jenderal Sudirman untuk mengirim utusan kepada KH. M. Hasyim Asy’ari  pada 3 Ramadhan 1366 H sesaat setelah terjadinya Agresi Militer Belanda 1.

Dengan dampingan pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya, -Kyai Ghufron-, KH. Hasyim Asy’ari menemui utusan tersebut. Sang tamu menyampaikan surat dari Jenderal Sudirman yang intinya meminta Hadratusy Syekh KH. M. Hasyim Asy’ari untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda dan dipaksa untuk membuat pernyataan mendukung tindakan Belanda; Sebab pada waktu itu Belanda tengah gencar melakukan serangan ke berbagai daerah di Jawa.

Setelah meminta waktu satu malam untuk berpikir, KH. M. Hasyim Asy’ari menyatakan ketidaksediaan memenuhi isi surat tersebut. Itu artinya komando bagi para laskar untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Empat hari berselang, yakni pada 7 Ramadhan 1366 H, datang lagi utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Utusan tersebut melalui surat yang dibawa, memohon komando jihad fi sabilillah dari KH. M. Hasyim Asy’ari bagi Ummat Islam Indonesia karena Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang. Banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang telah gugur menjadi korban.

KH. M. Hasyim Asy’ari kembali meminta waktu satu malam untuk dapat memberikan keputusan. Namun,  tak lama berselang datang kabar bahwa kota Singosari, Malang sebagai basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda. Mendengar kabar demikian KH. M. Hasyim Asy’ari berujar Masya Allah Masya Allah sambil memegang kepala lalu tak sadarkan diri.

Dokter Nitisastro yang memeriksa keadaan KH. M. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa sang Hadratusy Syekh mengalami pendarahan otak yang sangat hebat. Pada pukul 03.00 dini hari, tanggal 7 Ramadhan 1366 H, KH. M. Hasyim Asy’ari berpulang menemui kekasihnya yang haqiqi. Inna lillahi wa Inna Ilaihih Rajiun.

KH. M. Hasyim Asy’ari begitu teguh membela kedaulatan NKRI. Semangat dan jiwa nasionalisme yang kuat juga tercermin dari setiap dhawuh-dhawuh yang Beliau sampaikan kepada santri-santri Beliau. Karena keteguhan memperjuangkan NKRI itulah KH. M. Hasyim Asy’ari mendapat gelar sebagai pahlawan nasional dari Presiden Soekarno melalui Kepres. No. 249/1964.

Melihat betapa KH. Hasyim Asy’ari mencintai tanah air Indonesia dan keteguhan Beliau dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang waktu itu masih sangat rentan; lantas apa yang membuat kita harus memuja-muja segala tentang budaya Bangsa Arab dan menanggalkan nasionalisme serta rasa cinta tanah air?

Padahal faktanya, selama ini kita sholat, beribadah, dan hidup dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selama ini kita bebas dan aman menjalankan syari’at Islam tanpa takut akan adanya ancaman karena NKRI yang berdaulat.  Dalam kitab Muqtahofat li ahli al bukayat karangan KH. Marzuki Mustamar dituliskan bahwa, tidak diperbolehkan meninggalkan sesuatu yang telah nyata adanya untuk sesuatu yang masih diangan-angankan. NKRI Harga Mati.


BERBEDA TAPI SATU RASA


Hasil gambar untuk DIVERSITY
Suara adzan sudah beberapa saat lalu dikumandangkan. Jamaah sholat isya` di masjid dekat salah satu Balai Desa Kecamatan Jabung, Malang, sudah bubaran. Di Balai Desa sendiri, ada banyak orang berkumpul, mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua.

Mereka tengah asyik menikmati tarian yang diiringi kolaborasi musik modern dan tradisional. Berbekal egrang, 8 anak berusia 10 tahunan tampak riang menari di atas sebuah panggung ala kadarnya. Para penari cilik itu bergerak lincah dengan berbagai ritme gerakan.

Tarian egrang mereka kompak dan teratur, mengundang banyak tepuk tangan dari penonton acara budaya pada Minggu (6/8), terlebih para penari cilik itu begitu lihai dan tidak jatuh kendati berlama-lama berdiri di atas egrang.

Ketika alunan musik menegang dan gerakan tarian sampai pada bagian yang rumit, tepuk tangan penonton semakin ramai terdengar. Beberapa berbisik mengungkapkan kekaguman mereka pada keahlian bocah-bocah itu.

Tarian egrang tersebut merupakan salah satu rangkaian acara kebudayaan bertajuk Merajut Persatuan dan Perdamaian dari Desa, yang digawangi oleh para penggerak Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) Kota Malang. Komunitas yang bergerak berasaskan nilai perdamaian dan kemanusiaan itu sengaja menggelar acara di daerah pedesaan.

 "Menyuarakan perdamaian tidak melulu harus dilakukan melalui diskusi. Bentuk nyata kampanye perdamaian dapat dilakukan dengan berbaur bersama masyarakat, mengapresiasi kelebihan dan budaya yang dimiliki oleh warga desa" tutur Ilmi Najib, koordinator Garuda Malang.

Selain warga Jabung, acara tersebut juga dihadiri oleh beberapa tokoh agama dan budayawan. Diantaranya, Pendeta Kristanto Budi beserta istri, Gus Azam dari NU Jabung, Mas Bondhan Rio, Mas Eko, dan Bunsu Anton.

Sebagai pembuka acara, seluruh warga yang hadir di Balai Desa diajak untuk berdiri sejenak dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal tersebut bertujuan untuk menghidupkan kembali rasa cinta tanah air, terutama sekali bagi anak-anak.

Acara berikutnya diisi oleh kesenian-kesenian warga Jabung sendiri, seperti tari egrang dan juga salah satu tari tradisional Jawa. Menurut Ilmi, dengan menggandeng masyarakat sekitar untuk turut serta mengisi acara, akan membuat warga lokal merasa dihargai.

Selain itu, mereka juga akan merasa bangga dapat menampilkan kesenian daerah yang mereka miliki di depan publik. Nilai positif lainnya, rasa diterima dan dihargai dari masyarakat, lebih lanjut akan meningkatkan semangat perdamaian dan persatuan.

"Terkadang tugas kita adalah memberi panggung bagi kesenian-kesenian daerah yang dewasa ini sudah mulai terpinggirkan" imbuh Ilmi.

Semarak kegiatan budaya malam itu, selain menampilkan kesenian lokal, juga menyuguhkan tarian sufi. Berkebalikan dari tari egrang yang semua punggawanya anak laki-laki, tari sufi ini dibawakan oleh anak-anak perempuan.

Dengan iringan syiir Tanpo Wathon gubahan Gus Dur, para penari sufi itu menari dengan anggun dan penuh kekhusukan. Berputar-putar tanpa merasa pusing ataupuan mual.
Sembari acara berlangsung, penonton disuguhi jajanan tradisional seperti cenil, kacang tanah rebus, dan gorengan. Setelah tampilan kesenian usai, tokoh lintas agama dari Islam, Kristen Protestan, dan juga aliran kepercayaan kemudian memberikan beberapa wejangan.

Gus Azam, dalam kesempatannya menyebutkan bahwa, kegiatan lintas iman seperti ini sangat diperlukan untuk melatih masyarakat agar tidak nggumunan dan memiliki antipati dengan agama ataupun kepercayaan lain.

Kita sudah seharusya melewati batas-batas perbedaan itu dan hidup berdampingan dengan damai bersama seluruh komponen masyarakat Indonesia. Setelah tampilan kesenian dan pemberian wejangan, acara diutup dengan doa lintas iman yang diwakili oleh masing-masing tokoh agama dan kepercayaan.

Dan sebagai penutup, seluruh peserta, baik penonton maupun pengisi acara makan bersama dengan wadah talam yang telah disediakan oleh panitia. Garuda Malang memang sudah sering menyelenggarakan acara bernuansa lintas budaya maupun iman.

Semangat menyuarakan perdamaian dan melestarikan nilai-nilai Gus Dur menjadi dasar bagi para penggerak untuk turut melebur dengan masyarakat, untuk senantiasa hidup sederhana dan memupuk rasa toleransi. Lebih jauh, acara bernada sama semoga dapat diselenggarakan di tempat yang berbeda dengan kreasi acara yang lebih bervariasi.

Karena bagaimanapun, perdamaian adalah mimpi semua orang yang harus diwujudkan, dan perdamaian tidak akan terwujud jika kita tidak duduk bersama untuk saling menerima.

Perdamaian akan terasingkan jika kita masih kuat dengan etnosentrisme yang ada. Perdamaian akan sangat tabu jika kita masih menutup mata dan menolak perbedaan sesama. Salam damai.

sumber gambar: viglobal

JANGAN SEMBARANG BERGURU, APALAGI SOAL AGAMA


Hasil gambar untuk darwis sufi

Dewasa ini, semangat memperdalam agama sangat gencar melanda penduduk Indonesia, utamanya para generasi muda. Hal demikian tentunya bernada positif, mengingat ajaran agama adalah ajaran kebaikan dan perdamaian. Mendalami agama sama artinya dengan usaha memperbaiki akhlak dan moral.

AGOMO IKU NOTO APIKE KOYO OPO


Hasil gambar untuk mosque
Berbicara mengenai Islam akan selalu melahirkan berbagai perspektif tentang Islam itu sendiri. Pemahaman seseorang tentang agama Islam dan praktik beragama Islam akan berbeda dari satu individu dengan individu lainnya. Bergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Bergantung pada lingkungan dimana ia berada dan siapa panutannya.

Ada yang begitu mendambakan Islam, katanya sih Islam kaffah, sampai-sampai negara yang sudah ada harus dibubarkan dan diganti dengan sistem khilafah. Mereka gigih sekali dalam memperjuangkan khilafah yang diagung-agungkan. Mereka juga gencar sekali menjalankan proses arabisasi di nusantara. Mengganti saya dengan Ana, kamu dengan antum, membid`ah-bid`ahkan, dan mengkafir-kafirkan. Perjuangan mereka adalah tentang bagaimana menjadikan Indonesia menjadi negara neo-Arab, dengan cara apapun. Mereka keras sekali dalam menyikapi perbedaan dan terkesan menangan. Sak karepe dewe.

Ada yang saking cintanya dengan Islam, tetapi kurang mendalami hakikat Islam itu sendiri. Rata-rata mereka adalah orang-orang yang baru mengenal Islam, sehingga dengan sekuat tenaga mereka mencoba menegakkan Islam di nusantara, bahkan jika harus melalui jalan kekerasan tetap akan mereka lakukan. Mohon maaf, mereka sebenarnya hanya ikut-ikutan.

Sebaliknya, ada juga orang yang ingin sekali mengabdi pada Islam, dengan dalih jihad fi sabilillah kemudian melakukan aksi bom bunuh diri, dengan ganjaran surga katanya. Padahal yang demikian, adalah bentuk pendangkalan Islam, akibat pemahaman akan Islam yang kurang mendalam. Mereka tidak tahu, mungkin saja yang menjadi korban bom itu bisa jadi adalah saudara sendiri. Mereka tidak tahu bahwa orang kafir itu tidak semena-mena dapat diperangi. Mereka tidak tahu mana kafir harbi dan mana kafir dzimmi.

Di sisi lain, ada juga sekelompok orang yang berusaha tawassuth tetapi kemudian dituding tidak konsisten. Bahkan dituding kafir. Kelompok tawassuth ini menjadi sasaran empuk bagi mereka yang menganut madzhab takfiri, yang mengafirkan siapa saja yang tidak sehaluan. Namun pada kesempatan tertentu, jika minhum merasa diuntungkan dan perlu memihak, maka mereka akan berpura-pura mengikuti golongan ini.

Lalu, bagaimana seharusnya menyikapi perbedaan yang begitu beragam itu? Ketika setiap kelompok mengaku paling benar, subjektivitas begitu diunggulkan, dan demam virus tarbiyah gencar menyebar, kepada siapa muslim awam seperti saya harus meletakkan kepercayaan?

Dilematis dan tidak mudah untuk menentukan. Pada saat seperti ini, kembali lagi, kita harus berkiblat kepada para ulama`. Bukankah ulama` adalah pewaris para nabi? Maka jika tidak pada mereka, kepada siapa lagi kita harus menyandarkan agama kita. Sebab kita juga tidak bisa memutusi sendiri dan menafsiri sendiri.

Pada masa tabi`ut tabi`in kita mengenal ada 4 Imam Madzhab, diantaranya: Imam Maliki, Imam Syafi`I, Imam Hanbali, dan Imam Hanafi. Lalu pada masa ini kita mengenal para kiai. Kiai yang belajar dari kiai-kiai sebelumnya, yang `alim dan memahami Islam secara menyeluruh, bukan hanya kulit luar Islam saja. Kiai-kiai itu seperti tonggak untuk kita pegang dengan teguh. Kiai, yang dari mereka kita bisa mengerti ilmu agama dengan baik dan benar serta bisa meluruskan jika kita keliru. Kiai yang memberi petuah menyejukkan, yang membuat kita mengerti bagaimana seharusnya menjadi seorang muslim toleran dan tidak kaku.

KH. Abdul Ghofur, pengasuh Ponpes. Sunan Drajat seringkali dhawuh, “Agomo iku noto apike koyok opo“. Yang itu berarti fleksibilitas dalam Islam sangatlah diperlukan. Istilah lainnya bijak dalam bertindak, memilih mana yang memiliki maslahat paling banyak dan mudhorot paling sedikit.

Islam sebagai agama Rahmatan lil-alamiin sudah sepatutnya tidak dihiasi dengan wajah garang, dengan wajah kaku yang menyebalkan, yang dengan dalih amar ma`ruf nahi munkar berbuat kekerasan semau-maunya. Mengafirkan sesuka hatinya. Melaknat sekehendaknya, seakan ia adalah makhluk paling suci di dunia. Lupa bahwa kepada Fir`aunpun, seburuk-buruk manusia, Allah masih memerintahkan nabi Musa untuk berdakwah kepadanya dengan cara yang lemah lembut. Lalu kepada saudara sendiri, sesama muslim, kenapa harus menghardik dan mencaci maki hanya karena sedikit perbedaan?

Apabila dalih berbuat kekerasan atas nama Islam adalah untuk melawan kaum kafir, maka tidak ingatkah bahwa Rasulullah saw. tidak pernah mengusik ketenangan kafir dzimmi. Apalagi di negara dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ini, kita tidak perlu mempermasalahkan soal agama untuk diperdebatkan. Karena Indonesia, adalah negara majemuk yang terlahir dengan keberagaman agama, suku, dan budaya. Maka biarkan kemajemukan itu tetap ada. Biarkan Indonesia tetap kaya dengan hasanahnya. Mencoba menjadikan Indonesia satu warna adalah sama saja dengan mematikan karakter Indonesia dan melenyapkan keberagaman yang kaya itu.

Toleransi antar umat beragama maupun antar golongan dalam satu agama harus tetap dijaga dengan baik. Sebagaimana Guru Bangsa -Gus Dur-, pernah berkata, “Indonesia bukan negara agama, melainkan negara yang beragama. Ada enam agama yang diakui di Indonesia, jadi akui agama yang lain. Dan ingatlah, semakin tinggi ilmu seseorang maka akan semakin besar rasa toleransinya.




PASRAHKAN SAJA DAN LIHAT HASILNYA




Pada suatu subuh, terdengar lantunan Al Quran dari seorang perempuan yang masih mengenakan mukena dan duduk di serambi aula. Perempuan itu memejamkan mata, sedang menghafal beberapa ayat surat Al An’am. Dari tilawahnya yang panjang, ada beberapa kalimat yang sampai saat ini masih terngiang: