Meramu

MERDABA ~ Meramu Damai Bersama

SASTRA

Goresan Tinta Cerpen dan Puisi

BOOK CORNER

Temukan Rekomendasi dan Review Buku dari Meramu.com

SEPUTAR ISLAM

Artikel Seputar Islam.

Biology Corner

Belajar Biologi Bersama

Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Jalan Yang Kita Pilih

Bismillah.
Aku suka menuliskan ini: hidup selalu dipenuhi keraguan, kadang kita menang, kadang juga kalah.
Iya.. bagiku hidup lebih banyak tentang bagaimana kita memenangkan diri sendiri. Bagaimana kita selesai dengan diri sendiri. Sebagai seorang manusia, banyak hal bisa saja membuat kita ragu, entah kecil entah besar. Kadang kita bisa meyakinkan hati dari dalam diri sendiri, kadang kita butuh orang lain. Itu memenuhi aspek kebutuhan sosial.

Menjadi ragu bagi manusia adalah lumrah. Tetapi terlalu banyak keraguan bisa jadi bumerang yang mematikan.

Suatu hari kita tersesat dalam sebuah hutan, setelah berjalan cukup jauh, mengikuti jalan satu arah, kita menemukan sebuah persimpangan. Satu mengarah ke kiri dan satu mengarah kie kanan. Kita dipenuhi banyak keraguan karena jikalau salah, alih-alih pulang, kita justru akan tersesat semakin jauh. Untuk itu kita mempertimbangkan dengan matang mana jalan yang hendak kita pilih.

Terlalu menuruti rasa ragu akan membuat kita berhenti di titik persimpangan itu. Tidak ke mana-mana. Berdiri dengan dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan. Bagaimana jika, bagaimana jika. Terlalu sembrono bisa membuat kita salah memilih jalan, yang seharusnya ke kiri malah ke kanan dan sebaliknya. Akhirnya kita tidak punya pilihan lain kecuali memikirkannya dengan hati-hati dengan segenap pengetahuan yang pernah kita dapatkan. Memperhatikan posisi matahari, arah angin, keadaan jalan dan banyak lagi.

Mempertimbangkan dengan hati-hati bukan berarti larut dalam pemikiran tanpa ekseksusi. Mempertimbangkan adalah salah satu ikhtiar mendapatkan yang terbaik. Secukupnya saja. Jika keraguan masih ada, lawan. Enyahkan.

Pertimbangan itu lantas mengantar kita pada langkah-langkah maju ke salah satu arah. Kita berjalan ke sana dengan keyakinan, meski di tengah keraguan pasti akan tetap tumbuh kembali. abaikan saja. Segera setelah kita memilih suatu jalan, maka kita tidak bisa menghindari dua hal: konsekuensi buruk dan konsekuensi baik.

Seandainya, jalan yang kita pilih ternyata benar, maka itu adalah keuntungan. Dan itu yang terbaik untuk kita. Dan seandainya, jalan yang kita pilih salah, percayalah di sana pasti ada pembelajaran. Setidaknya itu lebih baik daripada terus bimbang di tengah hutan. Setidaknya, jalan yang kita ambil tetap menuju pada suatu tempat. Jika tidak pulang, maka kita menemukan hal baru untuk dijelajahi. Lingkungan baru untuk dipelajari. Jadi tidak ada yang sia-sia dari berhasil pulang atau menuju ke arah yang berlawanan.

Yang jelas, ke manapun kita berjalan, ada satu hal yang bisa membuat kita tenang, Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Jika kita menuju arah yang benar, itu karena kehendakNya, jika kita menuju arah yang lain, itu juga karena kehendakNya.

Yang perlu kita lakukan, hanya terus berusaha melakukan yang terbaik. Jatuh dalam penyesalan berlarut-larut bukan sesuatu yang bijak. Jadi, mari temukan jalan kita, jalani sepenuhnya. 

REMARRIED EMPRESS BAGIAN 3

Author: Alpataleuteu (Alpha Tart)
Status: On Going
sumber novel dan gambar:


REMARRIED EMPRESS


Bagian 3 - Tanda Awal Perselingkuhan (2)
Kejadian itu terjadi ketika semua pegawai kerajaan dan aku tengah berkumpul di ruang konferensi untuk membahas persiapan perayaan tahun baru.
Tenggorokanku rasanya begitu kering setelah berbicara cukup lama. Setelah meneguk segelas air hangat, aku pergi jalan-jalan ke kebun istana pusat untuk berelaksasi. Aku membutuhkan udara segar. Artina, wakil Jenderal, menemaniku bersama dayang-dayangku yang lainnya. Ketika aku sedang berdiskusi dengan Artina tentang siapa yang harus diundang di pesta perayaan nanti, aku mendengar seseorang berbisik, “apakah itu dia?”
Aku menyapukan pandanganku ke wilayah sekitar, dan melihat seorang wanita tengah duduk di kursi roda bersama dua wanita lainnya yang terlihat seperti pelayan. Mata kita bertatapan, segera setelah melihatku, wanita di kursi roda itu berusaha berdiri. Dua pelayan di sampingnya berusaha melarang wanita itu dengan memeganginya agar tetap duduk di kursi, tapi pelayan itu segera melepaskan tangannya setelah melihatku.
Wanita itu dengan gemetar memegang bagian kursi roda selagi ia berdiri dan mencoba merunduk untuk memberiku salam. Aku tidak begitu yakin siapa dia. Setelah kuamati, kurasa dia adalah budak yang ditemukan oleh raja. Tetapi ini adalah area dekat istana pusat, dan tidak seharusnya seseorang seperti dia berada di tempat seperti ini. Bahkan para pekerja di istana yang sudah memiliki posisi tinggipun, kurasa tidak mungkin akan berada di sini. Lalu kenapa dia?
Tetap saja, dia tetap berusaha memberiku salam meskipun kakinya terluka, jadi aku mengangguk sebagai tanda terima. Tanpa mengatakan apapun, aku meninggalkan wanita itu dengan pelayannya. Melanjutkan niatku mencari udara segar. Aku tidak ingin kehadiran wanita itu membuat malam ini menjadi kacau. Tetapi ketika aku sudah melangkah agak jauh, aku dengar sebuah suara agak berteriak di belakangku, Hey, ucapnya.
“Hey?” batinku.
Apa dia memanggilku?
Ini pertama kalinya seseorang memanggilku dengan cara seperti itu setelah aku menjadi seorang ratu. Aku menengok ke belakang dengan perasaan sedikit bingung. Aku melihat wanita itu menggerakkan kursi rodanya dan menuju ke arahku. Dua pelayan yang menemani wanita itu tampak kebingungan, mereka berseru, “Rashta, jangan!” tetapi ia bersikukuh dan mengabaikan pelayan di belakangnya.
Aku diam di tempatku berdiri. Apa dia ingin berbicara suatu hal denganku? Jika demikian, dia pasti tahu bahwa aku adalah ratu di sini. Tapi dia masih memanggilku Hey?
Kutatap wanita itu dengan ekspresi yang tidak jelas di wajahku, wanita bernama Rasta itu terus mendekat dan sekali lagi mengucapkan salam.
“Saya Rashta.”
Apa yang harus aku lakukan? Apa yang sedang dilakukan wanita ini? Pikirku.
“Iya, Rashta.”
Jawabku singkat.
Dia tersenyum, seolah bahagia karena aku menyebut namanya. Apa dia benar-benar menginginkan aku untuk berlaku seperti itu? Aku benar-benar ingin tahu apa niatnya, tetapi tidak akan etis jika aku bertanya kepadanya.
Waktu audiensi sudah habis. Otakku sudah sangat panas mendengar banyak hal tentang orang asing selama 3 jam. Dan aku tidak ingin melibatkan diri dengan sesuatu yang tidak perlu. Tujuanku ke sini untuk menenangkan diri. Lagipula, jika ada sebuah emergensi, dia pasti sudah akan meminta bantuan sesegera mungkin. Nyatanya wanita itu sangat gembira, jadi sepertinya dia tidak perlu kuperhatikan secara berlebihan. Mungkin dia hanya datang untuk menyapa.
Aku berbalik lagi. Berpikir bahwa tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi. Tetapi ketika aku melangkah, tangan wanita itu meraihku. Dia memegang rok dari gaunku. Dayang-dayangku segera menyadari keadaannya dan menyingkirkan tangan wanita itu dariku seolah-olah wanita itu adalah kera di kebun binatang yang berpotensi menggangguku.
“Beraninya kamu!”
“Apa kamu tidak mengenali siapa bangsawan ini?”
Rastha tersendak karena terkejut, dia berbicara dengan tergagap,
“Ma.. maafkan saya. Seharusnya saya memanggil anda tetapi saya tidak tahu nama anda.”
Dia benar-benar tidak tahu aku adalah ratu? Bukankah tadi aku mendengar pelayan berbisik kepadanya “itu dia, sang ratu”?
Laura memelototi Rashta dan berteriak kepadanya.
“Ini adalah Yang Mulia ratu. Hati-hati dengan tindakanmu!”
Mata Rashta terbelalak.
“Apa? Aku... aku tentu saja tahu beliau adalah ratu.”
Dia tahu aku ratu?
Aku mengernyitkan dahi demi ketidakjelasan Rashta, dan dia menatapku sambil pelan-pelan berkata,
“Sa..saya Rashta.”
Siapa Rashta? Aku dan dayangku benar-benar tidak mengerti. Apakah aku dan Rashata mengenal dengan baik sehingga kita bisa saling bertukar nama seperti ini? Dalam kebingungan, aku berusaha mengingat lagi wanita seumuran Rashta yang pernah datang ke kerajaan ini bersama para pejabat tinggi dari luar. Tetapi aku sama sekali tidak mengingat ada yang seperti Rashta. Terlalu banyak tamu yang datang⸺yang disambut olehku, ada juga yang hanya disambut oleh menteri luar negeri, dan ada yang disambut oleh Sovieshu secara langsung.
Yang jelas, Rashta tidak pernah menjadi tamuku. Mungkinkah Rashta pernah datang dan disambut oleh Menteri Luar Negeri? Tapi itu tidak mungkin. Jika dia berasal dari keluarga bangsawan, tentu para dayang akan mengetahuinya meskipun aku tidak mengetahui itu.
“Apakah anda mengenal saya?”
Aku mencoba untuk tidak berbasa-basi, dan dia terkejut.
“Anda tidak tahu siapa saya?”
Rashta memasang raut sedih.
“Saya tidak yakin.”
“Ah”
Rashta terlihat putus asa, dan dia berbisik kepada pelayannya, “apa yang harus aku lakukan?”
Dia berbisik, tetapi aku jelas mendengarnya karena dia berbisik dengan cukup keras.
Tetapi aku sedang lelah. Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Aku memutuskan untuk mengabaikannya lagi dan pergi ketika tiba-tiba Rahsta memanggilku lagi.
“Saya tinggal di Istana timur karena kebaikan hati sang raja.”
Kebaikan hati Sovieshu?
Istana timur. Kaki yang terluka. Ah! Wanita ini tentu saja..
“Kamu budak itu?”
Sahutku spontan. Tidak peduli apakah kalimat itu akan menyakitinya atau tidak. Lagipula, kenapa dia berada di Istana pusat? Sebelum aku bertanya lebih jauh, wajah Rashta sudah terlihat pucat pasi. Mungkin dia tersinggung dengan ucapanku, atau dia sedang gugup dan takut,
“Yang Mulia, maafkan kelancangan saya. Miss Rashta bukanlah seorang budak.”
Seorang pelayan di samping Rashta membelanya dan membenarkan ucapanku.
Bukan budak? Tetapi kenapa dayang-dayangku mengatakan bahwa dia adalah budak yang kabur. Jika itu adalah rumor yang salah, pasti mereka sudah memberitahku sebelumnya, tetapi kenyataannya mereka tidak pernah mengatakan itu.
Budak itu benar-benar di luar ekspektasiku. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya dengan cara yang seperti ini. Aku tidak peduli dengan gosip yang menyebar, tetapi yang jelas dia memang benar-benar cantik seperti yang dikatakan orang-orang. Kecantikannya tidak seperti Duchess Tuvania yang mempesona dan elegan, tetapi dia memperlihatkan aura yang lembut dan polos. Seperti wanita desa yang murni dan lugu. Matanya yang besar dan hitam menunjukkan naluri yang tajam, dan rambutnya berwarna perak terang yang membuat kesan innosen dan polos pada Rashta menjadi semakin terlihat. Ia tampak sedikit rapuh, sedikit misterius, dan layak dicintai.
Tunggu. Bukankah dayang-dayangku pernah memandikannya? Tetapi kenapa mereka tidak mengenali Rashta. Aku melihat ke arah dayang-dayangku, sayangnya, orang yang memandikan Rashta memang tidak sedang bersamaku.
“Iya. Sekarang saya tahu siapa anda.”
Aku mengangguk. Kulihat Rashta menggumam, tidak jelas apa yang ia katakan.
“Syukurlah. Sebenarnya, aku sudah sangat menanti pertemuan ini.” Ucapnya kemudian.
“Pertemuan?” sahutku cepat. Aku tidak percaya jika memang dia menunggu waktu untuk bisa bertemu denganku. Setidaknya, aku tidak ingin bertemu dengannya. lalu kenapa dia?
“Saya sudah bertanya kepada raja, tetapi raja terus mengatakan bahwa aku tidak harus memikirkan hal ini, tetapi bagaimanapun, kupikir kita harus tetap bertemu.”
Rashta mengucapkan itu dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Aku sedikit tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita ini. Aku memutuskan untuk diam saja.
“Bagaimana aku harus memanggil anda Yang Mulia?”
“Panggil saja Yang Mulia.” Tukasku.
“Hah?” Rashta tertegun seolah tidak ingin memanggilku dengan panggilan Yang Mulia.
Aku hanya meresponnya dengan satu kata iya. Menegaskan bahwa semua di istana ini memanggilku dengan panggilan itu.
Aku tidak tahu kenapa aku harus meladeni percakapan dengan Rashta. Aku tidak pernah membicarakan hal-hal sepele seperti ini dengan siapapun, tapi dia telah dengan sengaja menarikku ke dalam remeh temeh yang tidak perlu. Menyebalkan sekali.
Rashta terlihat lelah dan dia ingin Kembali. Sembari menggerakkan kursi rodanya, ia mendengus. Sepertinya benar-benar tidak suka memanggilku Yang Mulia.
Dayang-dayangku segera menyadari bahwa moodku menjadi tidak baik. Salah satu dari mereka segera menarik pegangan kursi roda Rashta dan menariknya sehingga Rashta berbalik arah.
“Hush! Jauh-jauh dari ratu!”
“Kamu pikir kamu siapa sok bertingkah akrab dengan ratu?”
Laura lebih emosi lagi. Tangannya sampai bergetar menahan kemarahan. Dia menarik bagian belakang baju Rashta.
“Menjijikkan!” tandas Laura melampiaskan amarah.
Sesaat kemudian, muncul Sovieshu dari belakangku.
“Apa maksudmu menjijikkan?!”
Suara Sovieshu dingin. Nada bicaranya terdengar tidak enak.
***

Berbeda itu Indah

الاختلاف العلماءرحمة

"Setiap perbedaan itu akan membawa rahmah, nikmah, dan barokah"

Segala ciptaan yang ada di muka bumi ini diciptakan Allah SWT dengan memiliki rupa, bentuk, sikap, dan karakter yang berbeda.  Oleh karena itu, sudah seharusnya kita saling menghormati dan menghargai setiap perbedaan, berusaha mengevaluasi diri sendiri sebelum mengevaluasi orang lain. 

Dengan demikian, perbedaan yang ada tidak akan menimbulkan perdebatan panjang yang tidak berfaedah, melainkan melahirkan nikmat dan rahmah yang berlimpah serta memberikan manfaat yang baik untuk kita.

Kiai yang Accessible




Di lingkungan Nahdhatul Ulama, khususnya di kalangan santri-santri yang tinggal di pesantren ada cerita yang sangat tekenal. Begini ceritanya, suatu hari Kiai Ahmad Dalhar Watu Congol, Magelang, kedatangan seorang tamu Tionghoa non Muslim.

Sang tamu bercerita bahwa perusahaannya bangkrut dan ia harus menanggung hutang yang cukup banyak. Sebagaimana kebanyakan kiai pesantren yang sangat welcome kepada siapapun, sang Kiai pun menyambut peranakan Tionghoa itu dengan baik.

saat itu, sang tamu minta kepada Kiai agar diberi 'amalan' yang dapat 'mendatangkan' rejeki sehingga ia dapat melunasi hutang-hutangnya. Sontak, tanpa banyak kata Kiai Ahmad memberi 'ijazah' agar sang tamu mengamalkan wirid dengan membaca sholawat.

"Sholawat satus. Bendino!" kata Kiai Ahmad.
(artinya: Baca sholawat seratus kali setiap hari)

Saking bahagianya mendapat amalan dari Kiai Ahmad, tamu tersebut langsung mohon pamit dan nylonong pulang.

Beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, Kiai Ahmad kedatangan tamu yang membawa oleh-oleh sangat banyak, mulai dari makanan sampai barang-barang berharga. Kiai Ahmad-pun bertanya-tanya, kenapa ada tamu yang membawa pemberian begitu banyak. 

Si tamu menjelaskan bahwa berkat menjalankan 'amalan' Kiai Ahmad ia mendapatkan jalan keluar. Hutang-hutangnya terlunasi, perusahaannya dapat bangkit kembali.

Kiai Ahmad lalu bertanya, 
"Lho Kamu Islam apa bukan?"
"Bukan yi"
"Lalu kamu mengamalkan apa?" kejar Kiai Ahmad

" Ya itu Kiai, panjenengan kan nyuruh saya agar membaca sholawat, sholawat. Nah itu saya baca -sholawat, sholawat- setiap hari" .

Kiai Ahmad terpingkal-pingkal sambil menjawab, 'sholawat itu bunyinya Allahumma Sholli 'ala Sayyidinina Muhammad, bukan sholawat-sholawat seperti itu."


Ada Cerita Begini




Ada cerita begini, usai memberikan ceramah pengajian didaerah Pasuruan, salah satu Syuriyah PWNU Jatim ini dihampiri banyak orang, bukan karena ingin memberikan "salam tempel", justru sebaliknya, banyak orang yang meminta uang. Tanpa berpikir panjang, amplop yang didapat usai mengisi pengajian dibuka dan dibagi-bagikan dengan nominal yang cukup besar tentunya.
 

(Kenapa Harus NKRI) -- Menemukan Indonesia dalam sepenuh Pergulatan Iman





Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang hidup di sebuah kampung yang seluruhnya adalah muslim. Tetangga berjarak lima rumah dari rumah kami bernama Pak Islam. Seorang pandai besi yang tekun dan ramah. Kami senang bermain di tempat kerjanya sambil sesekali ikut naik ke tempat pompa angina dan gembira ketika diijinkan untuk turut memompanya. Bersama kawan-kawan yang senang bermain di bengke pande itu kami sering berkelakar,

“kalau pak Islam masuk Kristen, nanti di KTP bagaimana ya bacanya?”. Pak Islam tahu kelakar itu dan selalu hanya tersenyum kepda kami. 

Di kampung itu, tiap ada tahlilan yang kala itu disebut slametan, Bapak saya selalu diundang dan selalu datang. Kalau Bapak sedang keluar kampong karena ada panggilan mengobati orang sakit, saya paling senang menggantikan Bapak untuk hadir dalam tahlilan. 

Saat doa akan berakhir biasanya yang hadir memberi sahutan ‘amin, amin, amin’ di sela-sela doa yang diucapkan. Ada yang mengambil nada rendah ada juga yang mengambil nada tinggi. Karena tertarik, sekali waktu saya Tanya pada paman yang duduk disamping saya: apakah kiranya diijinkan saya yang Kristen juga turut mengucap amin(?), dengan senyum dia mengangguk.

Di rukun tetanga (RT) di mana kami tinggal ada seorang kiai kampong, kami hanya ingat panggilannya adalah Pak Kiai. Beliau sangat baik hati, pendiam tapi murah senyum, dan sangat dihormati bahkan oleh anak-anak di kampong. 

Suatu kali, saya dan beberapa kawan mencuri manga di lading tak jauh dari rumah pak Kiai. Agar aman, manga kami bawa ke langgar (surau) di samping rumah Pak Kiai yang sepi dan disampingnya terdapat kolam ikan. Ketika sedang asyik menikmati mangga curian, Pak Kiai datang hendak sholat di langgar. Melihat kami yang merasa ketahuan dan ketakutan, pak Kiai hanya bilang: 

“Lain kali, sebaiknya minta izin saja kalau mau mengambil mangga, pasti kalian akan mendapat yang lebih besar dan matang. Buah-buahan di kebun itu tidak dijual kok”.

Belakangan akhirnya kami tahu bahwa kebun yang terdapat tanaman mangga itu ternyata milik pak Kiai.

Mendengar nama KH Marzuqi Mustamar, walau mungkin saya pribadi baru satu dua kali berjumpa dengan beliau, adalah mendengar kembali bangunan nasionalisme Indonesia yang pondasinya sudah bermula dari perjumpaan antar manusia di kampung-kampung, sebagaimana yang sejak kecil saya kenali dengan baik. 

Melihat sosok beliau dan bagaimana pemikiran beliau tentang nasionalisme adalah seperti berada dalam tahlilan di kampung, sebagaimana yang dulu menjadi tempat paling aman bagi setiap orang untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Keterbatasan interaksi bukanlah halangan manakala moment perjumpaan itu menjadi moment kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Tulisan-tulisan beliau, khotbah, dan ceramahnya yang dipublikasikan lewat video, cukuplah untuk dijadikan kerangka acuan memastikan bagaimana kecintaan Kiai Marzuqi terhadap tanah airnya. Bukan lewat retorika teoretis yang seringkali justru menjebak orang dalam paradoks demokrasi yang ditawarkan nasionalisme Indonesia, melainkan lewat orang-orangnya, para pendiri dan pejuangnya, bahkan tiap-tiap orang yang ada di sekitar. 

Kiai Marzuqi memperlihatkan bagaimana semangat nasionalisme itu hidup karena dihidupi melalui kesadaran iman yang kokoh pada kemaslahatan seluruh umat manusia.

Ketia penulis buku: Mahalasari, Muhammad Faishol, dan Uswatun Khasanah telah dengan jeli mampu menangkap momen-momen penting itu yang secara mengalir dideskripsikan dalam buku ini. Dengan gaya bahasa yang sangat enak dinikmati, penuturan ketiga penulis ini mengajak para pembaca untuk melihlat bagaimana seorang sosok anak bangsa dengan segala pergumulan hidupnya, dengan perjuangan imannya, dengan keteguhan batinnya, dengan dinamika hidup keluarganya, pada akhirnya menemukan Indonesia itu ada dalam jiwanya. Dari situlah kita bisa melihat, jika Indonesia itu perlu dijaga, tentulah itu terutama bagi keselematan warganya, seluruhnya. 

Kalau Indonesia itu perlu dibela, hal itu adalah agar kemanusiaan ditinggikan, sebagaimana iman kepercayaan yang diajarkan agama selalu menegaskan adanya hidup yang menjunjung kebersamaan dalam perbedaan-perbedaan yang ada. Nasionalisme itu bukan Cuma slogan kosong, dia bermula dari bagaimana tiap orang menelusuri perjalanan hidupnya, membangun kedisiplinan dirinya, mengembangkan bakat terbaiknya, serta mengupayakan hidup bersama dengan orang-orang di sekitarnya dengan penuh penghargaan, pengertian dan penghormatan.

Melalui buku ini pembaca akan diajak untuk melihlat bagaimana sebenarnya setiap orang memiliki kesempatan menemukan Indonesia-nya masing-masing. Pengalaman hidup Kiai Marzuqi adalah contoh yang tepat untuk itu. Menemukan Indonesia itu terjadi dalam keseharian, di tengah hidup keluarga dan masyarakat, di tengah proses berpikir dan bersikap kiris, bahkan di dalam keheningan permenungan keimanan yang mendalam. 

Nasionalisme Indonesia itu bukan sekedar jiplakan matang dari konsep yang didiskusikan di dalam kelas dan ruang rapat belaka. Nasionalisme Indonesia itu terutama berbicara tentang bagaimana sikap hidup nyata manusia-manusianya. Oleh itulah ketika bicara tentang nasionalisme adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari itu sendiri. Maknanya jelas. Yaitu agar tiap generasit erus dapat menemukan sendiri keIndonesia-annya dalam pengalaman terkininya. 

Tentu saja ada banyak alternatif jalur yang bisa ditempuh untuk mengkonstruksi nasionalisme Indonesia itu. Buku ini juga menawarkan secara singkat bagaimana jalur-jalur itu bisa dilalui.
Di sana ditawarkan eksplorasi singkat mengenai usaha mengkonstruksi Indonesia itu melalui jalur historis, jalur proses tawar menawar dasar ideologis, dan jalur model penafsiran kekinian yang mungkin disenangi generasi millenial yang pluralis dan universalis. 

Satu kesadaran dasar toh tetap harus dimiliki, dan buku ini menawarkan agar apapun yang dapat kita telusuri pada jalur-jalur itu, menjadi pembelajaran yang terbaik bagi kita untuk semakijn menemukan kemanusiaan seutuhnya, lahir dan batinnya. Demikianlah maka mengkonstruksi Indonesia itu juga dapat dijalani dengan perhatian yang benar terhadap hidup keimanan seseorang.

Melalui Kiai Marzuqi, para penulis menyadari bahwa keIslaman –dan pada umumnya keagamaan seseorang–, termasuk afiliasinya terhadap alternatif organisasi keagamaan yang diikutinya, adalah ruh terpenting untuk berjumpa dengan kemanusiaan yang luas, yang dalam konteks berbangsa dan bernegara telah ditemukan oleh para pendahulu bangsa ini sebagai Indonesia yang sekarang ini kita kenali.

Para pendahulu itu, tidak begitu saja menempatkan agama dan pendirian penafsirannya sebagai satu-satunya yang harus menjadi tonggak dasar terbangunnya nasionalisme keIndonesiaan. Ada banyak proses dialog dan saling memahami, ada proses saling menghargai dan menerima, ada proses damai menemukan pilihan terbaik baik bagi semua, pun bagi yang paling kecil dan sedikit sekalipun, semata agar hidup nasionalisme itu tetaplah berada dalam semangat ketulusan praktik beriman.

Maka menjauhkan diri dari semangat dan gelombang kebencian yang cenderung memecah belah, pun kiranya itu berada di dalam penafsiran tertentu dalam agama adalah penting untuk diklarifikasi dengan bijak dan mendalam. Kiai Marzuqi khatam mengenai hal itu, dan layak untuk diteladani oleh generasi muda saat ini.

Tentu hal ini bukan dalam arti hanya menyetujui dan mengiyakannya belaka, melainkan meneladaninya melalui seluruh keutuhan pengalaman hidup: di kampus, di masyarakat, di rumah sebagaimana yang dijalani beliau. Kalau Kiai Marzuqi telah menemukan nasionalisme keIndonesiaannya dengan sepenuh pergulatan imannya, maka tentu saja generasi saat ini juga akan dapat menemukannya dengan lebih baik lagi.

*Kata pengantar Bapak Kristanto Budiprabowo, M.Th dalam buku -Kenapa Harus NKRI-

Merasakan Perjalanan Hidup Guru Bangsa Melalui Novel Peci Miring

  Hasil gambar untuk peci miring
 
 
Judul: Peci Miring
Pengarang: Aguk Irawan MN
Penerbit: Javanica
Cetakan: 1, September 2015
Tebal: 389 Halaman
ISBN: 978-602-72793-1-5        
            
Gus Dur merupakan sosok fenomenal sekaligus kontroversial. Ada berbagai persepsi yang lahir dari setiap lapisan masyarakat tentang guru Bangsa satu ini. Gus Dur melebur dalam masyarakat, seorang pemikir, Kiai, dan juga aktivis kemanusiaan yang dekat dengan semua kalangan. Sangat dicintai tetapi juga banyak dibenci.
 
Dalam novel Peci Miring, Aguk Irawan menggambarkan perjalanan Gus Dur mulai dari lahir hingga pengembaraannya ke Eropa dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Menurut KH. Mahfudz Ridwan, bahasa yang digunakan begitu hidup dan menjiwai setiap cerita yang dituturkan dalam beberapa bab.
 
Di halaman awal novel, kita akan disuguhi bagaimana Gus Dur kecil hidup di Pesantren Tebuireng dan bagaimana interaksinya dengan sang Kakek, Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy`ari. Dipaparkan juga bahwa semasa kanak-kanak, Gus Dur adalah anak kecil yang bandel sehingga tangannya pernah 2 kali patah karena jatuh dari pohon. Secara tidak langsung, novel ini juga menggambarkan betapa besarnya kharisma yang dimiliki KH Hasyim Asy`ari, serta sepak terjang Beliau dalam memperjuangkan NKRI.
 
Karya Aguk Irawan ini memberikan cara yang luwes dalam mengisahkan biografi tokoh ternama seperti Gus Dur. Cerita yang dikemas dalam bentuk Novel, membuat kita bisa merasakan emosi yang hendak disampaikan oleh Aguk yang pernah dialami oleh Gus Dur. Semisal ketika membaca halaman di mana KH Hasyim Asyari wafat, perasaan kita akan terbawa dalam keadaan sedih, atau ketika Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, mengalami kecelakaan di Bandung dan meninggal dunia ketika tengah dalam perjalanan bersama Gus Dur, kita akan dibuat merasakan perasaan kalut dan duka.
 
Selesai dengan masa kecil Gus Dur yang erat kaitannya dengan dunia pesantren, di bagian lain novel kita akan menemukan fakta menarik bahwa Gus Dur adalah sosok yang gemar sekali membaca dan sangat dekat dengan buku. Dalam usia yang dapat dikatakan Dini, Gus Dur bahkan telah mengkhatamkan Marxisme, Leninisme, dan bacaan berat lainnya yang notabene berbahasa asing.
Di luar itu, Gus Dur dengan kecerdasannya mampu menguasai kitab-kitab kuning dan pelajaran-pelajaran lainnya dalam waktu yang relatif singkat, sehingga ia cenderung bosan lantas mengabaikan pembelajaran formal di dalam kelas.
 
Hal lain yang membuat novel ini menarik adalah banyak hal tak terungkap tentang Gus Dur yang dmuat dalam novel ini, antara lain tentang kecerdikannya dalam membuat taktik, hubungannya dengan teman-temannya di pesantren Tegalrejo, dan persinggungannya dengan beberapa orang-orang komunis di Yogyakarta.
 
Tetapi sangat disayangkan, bahwa kisah pengembaraan itu usai diceritakan ketika Gus Dur mulai menginjakkan kaki di Eropa. Tentu akan lebih menarik jika novel ini juga berisi bagaimana perjalanan Gus Dur di Eropa sehingga bagaimaa sepak terjangnya di sana dan dengan siapa saja ia berinteraksi di Benua yang terkenal dengan modernitasnya tersebut. atau mungkin novel lanjutan dari Peci Miring ini akan terbit dengan mengisahkan perjalanan Gus Dur yang lebih panjang, di mulai sejak ia mengembara di Eropa.

diterbitkan secara online pertama kali oleh mediasantrinu.com