Meramu

MERDABA ~ Meramu Damai Bersama

SASTRA

Goresan Tinta Cerpen dan Puisi

BOOK CORNER

Temukan Rekomendasi dan Review Buku dari Meramu.com

SEPUTAR ISLAM

Artikel Seputar Islam.

Biology Corner

Belajar Biologi Bersama

Showing posts with label romansa. Show all posts
Showing posts with label romansa. Show all posts

REMARRIED EMPRESS BAGIAN 3

Author: Alpataleuteu (Alpha Tart)
Status: On Going
sumber novel dan gambar:


REMARRIED EMPRESS


Bagian 3 - Tanda Awal Perselingkuhan (2)
Kejadian itu terjadi ketika semua pegawai kerajaan dan aku tengah berkumpul di ruang konferensi untuk membahas persiapan perayaan tahun baru.
Tenggorokanku rasanya begitu kering setelah berbicara cukup lama. Setelah meneguk segelas air hangat, aku pergi jalan-jalan ke kebun istana pusat untuk berelaksasi. Aku membutuhkan udara segar. Artina, wakil Jenderal, menemaniku bersama dayang-dayangku yang lainnya. Ketika aku sedang berdiskusi dengan Artina tentang siapa yang harus diundang di pesta perayaan nanti, aku mendengar seseorang berbisik, “apakah itu dia?”
Aku menyapukan pandanganku ke wilayah sekitar, dan melihat seorang wanita tengah duduk di kursi roda bersama dua wanita lainnya yang terlihat seperti pelayan. Mata kita bertatapan, segera setelah melihatku, wanita di kursi roda itu berusaha berdiri. Dua pelayan di sampingnya berusaha melarang wanita itu dengan memeganginya agar tetap duduk di kursi, tapi pelayan itu segera melepaskan tangannya setelah melihatku.
Wanita itu dengan gemetar memegang bagian kursi roda selagi ia berdiri dan mencoba merunduk untuk memberiku salam. Aku tidak begitu yakin siapa dia. Setelah kuamati, kurasa dia adalah budak yang ditemukan oleh raja. Tetapi ini adalah area dekat istana pusat, dan tidak seharusnya seseorang seperti dia berada di tempat seperti ini. Bahkan para pekerja di istana yang sudah memiliki posisi tinggipun, kurasa tidak mungkin akan berada di sini. Lalu kenapa dia?
Tetap saja, dia tetap berusaha memberiku salam meskipun kakinya terluka, jadi aku mengangguk sebagai tanda terima. Tanpa mengatakan apapun, aku meninggalkan wanita itu dengan pelayannya. Melanjutkan niatku mencari udara segar. Aku tidak ingin kehadiran wanita itu membuat malam ini menjadi kacau. Tetapi ketika aku sudah melangkah agak jauh, aku dengar sebuah suara agak berteriak di belakangku, Hey, ucapnya.
“Hey?” batinku.
Apa dia memanggilku?
Ini pertama kalinya seseorang memanggilku dengan cara seperti itu setelah aku menjadi seorang ratu. Aku menengok ke belakang dengan perasaan sedikit bingung. Aku melihat wanita itu menggerakkan kursi rodanya dan menuju ke arahku. Dua pelayan yang menemani wanita itu tampak kebingungan, mereka berseru, “Rashta, jangan!” tetapi ia bersikukuh dan mengabaikan pelayan di belakangnya.
Aku diam di tempatku berdiri. Apa dia ingin berbicara suatu hal denganku? Jika demikian, dia pasti tahu bahwa aku adalah ratu di sini. Tapi dia masih memanggilku Hey?
Kutatap wanita itu dengan ekspresi yang tidak jelas di wajahku, wanita bernama Rasta itu terus mendekat dan sekali lagi mengucapkan salam.
“Saya Rashta.”
Apa yang harus aku lakukan? Apa yang sedang dilakukan wanita ini? Pikirku.
“Iya, Rashta.”
Jawabku singkat.
Dia tersenyum, seolah bahagia karena aku menyebut namanya. Apa dia benar-benar menginginkan aku untuk berlaku seperti itu? Aku benar-benar ingin tahu apa niatnya, tetapi tidak akan etis jika aku bertanya kepadanya.
Waktu audiensi sudah habis. Otakku sudah sangat panas mendengar banyak hal tentang orang asing selama 3 jam. Dan aku tidak ingin melibatkan diri dengan sesuatu yang tidak perlu. Tujuanku ke sini untuk menenangkan diri. Lagipula, jika ada sebuah emergensi, dia pasti sudah akan meminta bantuan sesegera mungkin. Nyatanya wanita itu sangat gembira, jadi sepertinya dia tidak perlu kuperhatikan secara berlebihan. Mungkin dia hanya datang untuk menyapa.
Aku berbalik lagi. Berpikir bahwa tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi. Tetapi ketika aku melangkah, tangan wanita itu meraihku. Dia memegang rok dari gaunku. Dayang-dayangku segera menyadari keadaannya dan menyingkirkan tangan wanita itu dariku seolah-olah wanita itu adalah kera di kebun binatang yang berpotensi menggangguku.
“Beraninya kamu!”
“Apa kamu tidak mengenali siapa bangsawan ini?”
Rastha tersendak karena terkejut, dia berbicara dengan tergagap,
“Ma.. maafkan saya. Seharusnya saya memanggil anda tetapi saya tidak tahu nama anda.”
Dia benar-benar tidak tahu aku adalah ratu? Bukankah tadi aku mendengar pelayan berbisik kepadanya “itu dia, sang ratu”?
Laura memelototi Rashta dan berteriak kepadanya.
“Ini adalah Yang Mulia ratu. Hati-hati dengan tindakanmu!”
Mata Rashta terbelalak.
“Apa? Aku... aku tentu saja tahu beliau adalah ratu.”
Dia tahu aku ratu?
Aku mengernyitkan dahi demi ketidakjelasan Rashta, dan dia menatapku sambil pelan-pelan berkata,
“Sa..saya Rashta.”
Siapa Rashta? Aku dan dayangku benar-benar tidak mengerti. Apakah aku dan Rashata mengenal dengan baik sehingga kita bisa saling bertukar nama seperti ini? Dalam kebingungan, aku berusaha mengingat lagi wanita seumuran Rashta yang pernah datang ke kerajaan ini bersama para pejabat tinggi dari luar. Tetapi aku sama sekali tidak mengingat ada yang seperti Rashta. Terlalu banyak tamu yang datang⸺yang disambut olehku, ada juga yang hanya disambut oleh menteri luar negeri, dan ada yang disambut oleh Sovieshu secara langsung.
Yang jelas, Rashta tidak pernah menjadi tamuku. Mungkinkah Rashta pernah datang dan disambut oleh Menteri Luar Negeri? Tapi itu tidak mungkin. Jika dia berasal dari keluarga bangsawan, tentu para dayang akan mengetahuinya meskipun aku tidak mengetahui itu.
“Apakah anda mengenal saya?”
Aku mencoba untuk tidak berbasa-basi, dan dia terkejut.
“Anda tidak tahu siapa saya?”
Rashta memasang raut sedih.
“Saya tidak yakin.”
“Ah”
Rashta terlihat putus asa, dan dia berbisik kepada pelayannya, “apa yang harus aku lakukan?”
Dia berbisik, tetapi aku jelas mendengarnya karena dia berbisik dengan cukup keras.
Tetapi aku sedang lelah. Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Aku memutuskan untuk mengabaikannya lagi dan pergi ketika tiba-tiba Rahsta memanggilku lagi.
“Saya tinggal di Istana timur karena kebaikan hati sang raja.”
Kebaikan hati Sovieshu?
Istana timur. Kaki yang terluka. Ah! Wanita ini tentu saja..
“Kamu budak itu?”
Sahutku spontan. Tidak peduli apakah kalimat itu akan menyakitinya atau tidak. Lagipula, kenapa dia berada di Istana pusat? Sebelum aku bertanya lebih jauh, wajah Rashta sudah terlihat pucat pasi. Mungkin dia tersinggung dengan ucapanku, atau dia sedang gugup dan takut,
“Yang Mulia, maafkan kelancangan saya. Miss Rashta bukanlah seorang budak.”
Seorang pelayan di samping Rashta membelanya dan membenarkan ucapanku.
Bukan budak? Tetapi kenapa dayang-dayangku mengatakan bahwa dia adalah budak yang kabur. Jika itu adalah rumor yang salah, pasti mereka sudah memberitahku sebelumnya, tetapi kenyataannya mereka tidak pernah mengatakan itu.
Budak itu benar-benar di luar ekspektasiku. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya dengan cara yang seperti ini. Aku tidak peduli dengan gosip yang menyebar, tetapi yang jelas dia memang benar-benar cantik seperti yang dikatakan orang-orang. Kecantikannya tidak seperti Duchess Tuvania yang mempesona dan elegan, tetapi dia memperlihatkan aura yang lembut dan polos. Seperti wanita desa yang murni dan lugu. Matanya yang besar dan hitam menunjukkan naluri yang tajam, dan rambutnya berwarna perak terang yang membuat kesan innosen dan polos pada Rashta menjadi semakin terlihat. Ia tampak sedikit rapuh, sedikit misterius, dan layak dicintai.
Tunggu. Bukankah dayang-dayangku pernah memandikannya? Tetapi kenapa mereka tidak mengenali Rashta. Aku melihat ke arah dayang-dayangku, sayangnya, orang yang memandikan Rashta memang tidak sedang bersamaku.
“Iya. Sekarang saya tahu siapa anda.”
Aku mengangguk. Kulihat Rashta menggumam, tidak jelas apa yang ia katakan.
“Syukurlah. Sebenarnya, aku sudah sangat menanti pertemuan ini.” Ucapnya kemudian.
“Pertemuan?” sahutku cepat. Aku tidak percaya jika memang dia menunggu waktu untuk bisa bertemu denganku. Setidaknya, aku tidak ingin bertemu dengannya. lalu kenapa dia?
“Saya sudah bertanya kepada raja, tetapi raja terus mengatakan bahwa aku tidak harus memikirkan hal ini, tetapi bagaimanapun, kupikir kita harus tetap bertemu.”
Rashta mengucapkan itu dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Aku sedikit tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita ini. Aku memutuskan untuk diam saja.
“Bagaimana aku harus memanggil anda Yang Mulia?”
“Panggil saja Yang Mulia.” Tukasku.
“Hah?” Rashta tertegun seolah tidak ingin memanggilku dengan panggilan Yang Mulia.
Aku hanya meresponnya dengan satu kata iya. Menegaskan bahwa semua di istana ini memanggilku dengan panggilan itu.
Aku tidak tahu kenapa aku harus meladeni percakapan dengan Rashta. Aku tidak pernah membicarakan hal-hal sepele seperti ini dengan siapapun, tapi dia telah dengan sengaja menarikku ke dalam remeh temeh yang tidak perlu. Menyebalkan sekali.
Rashta terlihat lelah dan dia ingin Kembali. Sembari menggerakkan kursi rodanya, ia mendengus. Sepertinya benar-benar tidak suka memanggilku Yang Mulia.
Dayang-dayangku segera menyadari bahwa moodku menjadi tidak baik. Salah satu dari mereka segera menarik pegangan kursi roda Rashta dan menariknya sehingga Rashta berbalik arah.
“Hush! Jauh-jauh dari ratu!”
“Kamu pikir kamu siapa sok bertingkah akrab dengan ratu?”
Laura lebih emosi lagi. Tangannya sampai bergetar menahan kemarahan. Dia menarik bagian belakang baju Rashta.
“Menjijikkan!” tandas Laura melampiaskan amarah.
Sesaat kemudian, muncul Sovieshu dari belakangku.
“Apa maksudmu menjijikkan?!”
Suara Sovieshu dingin. Nada bicaranya terdengar tidak enak.
***

REMARRIED EMPRESS BAGIAN 2

Judul : Remarried Empress
Author: Alpataleuteu (Alpha Tart)
Status: On Going
sumber novel:

REMARRIED EMPRESS

Bagian 2 - Tanda Awal Perselingkuhan
“Ada hal lain yang perlu dibicarakan Yang Mulia? Saya tidak bertanya kepada anda sesuatu yang tidak lazim. Sebagai pemilik Istana kerajaan, saya hanya bertanya kepada anda apakah anda benar-benar membawa seorang wanita yang terluka sebagaimana kabar yang beredar. Bagaimanapun, ini adalah sesuatu yang baru. Tidak pernah terjadi sebelumnya.”
Apakah caraku membicarakan ini terlalu berlebihan? Aku sudah berusaha untuk berbicara dengan nada biasa, bahkan aku memasang sebuah senyum ramah di bibirku. Aku berbicara dengan sangat biasa seolah aku tidak mengkhawatirkan apapun, hanya berbicara layaknya ketika aku mendikusikan persiapan perayaan tahun baru dengan Sovieshu. Aku jelas tidak ingin Sovieshu bahwa kabar ini sangat membebaniku sebagai seorang ratu⸺dan istri.
Sovieshu terlihat tidak nyaman. Kelihatan sekali dia tidak ingin membicarakan hal ini denganku. Aku tidak tahu apa yang dia sembunyikan tetapi situasinya benar-benar kaku dan dingin. Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menjelma di antara kami. Bahkan nafsu makankupun sudah lenyap.
“Apakah kamu bertanya karena kamu hanya ingin tahu?”
Sovieshu melihatku dengan penuh selidik, dan aku melempar sebuah senyum kepadanya.
“Saya tidak akan bertanya jika saya tidak penasaran.”
“Wanita itu tidak sengaja terjebak di salah satu jebakan yang aku buat, dan aku membawanya ke istana tidak lain agar dia mendapatkan perawatan yang sesuai. Dia tidak terluka begitu parah, jadi aku menyuruh dia  untuk tinggal di salah satu ruangan bersama seorang pelayan untuk merawatnya.”
“Saya mengerti”
“Jangan khawatir. Aku tidak akan meminta dayangmu untuk mengurusi wanita itu lagi.”
Sovieshu melanjutkan potongan steak yang sedari tadi hanya terpotong setengah. Suara pisau yang menyentuh piring terdengar begitu keras, seperi suatu burung pelatuk yang sedang bergema di ruang makan ini. Nampaknya Sovieshu sangat kesal sehingga ia memotong daging dengan sedikit kasar. Biasanya dia juga mempunyai banyak topik untuk dibicarakan, tetapi sekarang dia hanya diam.
***
“Apa yang dikatakan oleh raja, Yang Mulia?”
Ketika aku kembali ke istana barat setelah makan malam, Dayang-dayangku sudah bergerombol di kamar, mereka bertanya kepadaku dengan penuh kekhawatiran.
“Dia... Raja tidak mengatakan banyak hal.”
Countess Eliza mengernyitkan dahinya menanggapi jawabanku yang mengambang.
“Jika demikian, kenapa anda begitu murung?”
Aku hanya diam saja.
“Tidak apa-apa Yang Mulia. Katakan saja kepada kami, Dengan begitu kami bisa mempersiapkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.”
Aku menarik nafas dalam, sambil memaksakan diri untuk tersenyum tipis.
“Raja mengatakan bahwa wanita itu tidak sengaja terjebak di jebakannya raja. Dia tidak menyebutkan apakah wanita itu budah yang kabur atau sejenisnya,”
Setelah kupikir lagi, aku bahkan tidak tahu siapa nama wanita itu.
“Raja mengatakan bahwa dia hanya merawat wanita itu, dan nampaknya dia tidak senang jika aku membicarakan masalah ini.”
Segera setelah aku selesai dengan kalimat terakhirku, Laura terbangun dari tempat ia duduk. Dayang lainnya, yang notabene lebih mengerti etika, melihat Laura dengan tatapan seolah menyuuruhnya duduk, tetapi Laura sudah terlanjur tersulut emosinya sehingga ia tidak memperhatikan para dayang itu.
“Yang Mulia, tahukah anda bahwa apa yang dilakukan oleh Raja sama persis dengan apa yang dilakukan oleh ayahku ketika ia mulai berselingkuh dulu?”
Suara Laura meningga sehingga Countess Eliza memanggil namanya untuk memperingatkan. Tetapi Laura benar-benar sudah lepas kendali dan dia tidak akan berhenti berbicara meski sudah diperingatkan.
“Yang dilakukan oleh raja jelas adalah tanda awal adanya perselingkuhan. Lagipula, kenapa dia tidak ingin membicarakannya?”
Dayang yang lebih tua memarahi Laura karena berbicara terang-terangan. Tetapi bagaimanapun, mereka tidak membantah perkataannya.
Countess Eliza yang mengerti situasinya menjadi tidak menyenangkan, segera meminta para dayang untuk pergi. Sebagai seseorang yang lebih berpengalaman, Countess Eliza pasti tahu aku sangat tertekan. Dia lalu mendudukkanku di meja rias dan mulai menyisir rambutku.
“Raja adalah lelaki yang suka berburu. Dia pasti melakukan ini karena merasa bahwa menemukan seorang wanita tertangkap di jebakannya adalah sebuah keajaiban.”
“Countess.” Aku bersuara pelan.
“Iya, Yang Mulia?”
“Sebelumnya, Ibu pernah berkata kepadaku, bahkan jika raja mengambil seorang selir, aku tidak harus membiarkan diriku terluka karena hal seperti ini. Ada terlalu banyak kejadian seperti ini dan aku tidak harus mengharapkan adanya perbedaan dalam kehidupanku dan Sovieshu.”
Dahi tengah Countess Eliza tampak mengkerut. Countess Eliza beruntung karena memilki kisah pernikahan yang berbeda dengan para bangsawan lainnya. Mereka menikah bukan atas dasar politik, tetapi karena cinta. Jadi saran pernikahan yang diberikan oleh ibuku tentu tidak berlaku untuk seseorang seperti Countess Eliza.
“Aku tidak mengatakan hal ini kepada dayang lainnya, tetapi aku sudah mempersiapkan diri. Bahkan nanti jika raja benar-benar menjadikan budak itu sebagai selirnya, kurasa aku sudah sangat siap.”
“Yang Mulia,”
“Tetapi, mengetahui raja yang tidak mau membicarakan ini denganku, rasanya aku sedikit terpukul.”
Countess Eliza meletakkan sisirnya di atas meja. Aku memandangnya dan memintanya untuk jujur.
“Tidak peduli apakah raja memiliki sepuluh atau seratus selir, mereka hanyalah selir dan akulah ratunya. Sovieshu dan aku tidak pernah mencintai satu sama lain, bahkan sampai nanti jika kita sudah tidak bernafas lagi. Jadi secara teori, kita akan baik-baik saja. Tetapi, kenapa rasanya hatiku begitu kosong?”
Countess Eliza memeluk kepala dan pundakku. Dia begitu untuk beberapa lama lalu melepaskan pelukannya dan mulai berbicara,
“Meskipun pernikahan Yang Mulia raja dan ratu adalah pernikahan politik, Yang Mulia telah bersama-sama sejak kecil dan sampai saat ini. Tentu itu bukan sesuatu yang mengejutkan jika anda merasa kecewa. sayapun akan merasakan hal yang sama jika suatu hari anakku mengambil orangtua angkat, atau jika tiba-tiba orangtuaku mengambil orang lain sebagai anak dan lebih menyayangi dia karena dia lebih cantik. kecewa dan marah yang sama jika teman baikku memiliki sahabat lain yang lebih dekat dengannya. Jadi, itu adalah emosi yang wajar.”
“Jadi, apakah raja juga akan merasakan kekecewaan dan kemarahan itu jika aku dekat dengan lelaki lain?”
Countess Eliza tidak menjawab pertanyaanku. Dia mengambil sisir dan mulai menyisir rambutku lagi. Kuanggap itu sebagai jawaban ‘tidak’. Setelah beberapa saat, ia kemudian berbicara lagi,
“Sejujurnya, saya tidak bisa mengetahui itu Yang Mulia. Semakin besar cinta anda, maka semakin sulit ia untuk mengenali keadaan sekitarnya.”
Jadi aku memang tidak punya pilihan lain kecuali mengatasi patah hatiku ini sendiri. Aku memaksakan diri untuk tersenyum.
“Aku mengerti, Countess. Aku yakin aku akan segera merasa lebih baik. Lagipula, aku tidak akan bertemu dengan wanita itu,”
“Benar. Meskipun budak itu menjadi selir, dia tetap tidak bisa bergabung dalam lingkungan sosial kelas tinggi.”
Jika seseorang menjadi seorang budak bukan berarti dia tidak dapat menaikkan kelas sosialnya ke strata yang lebih tinggi. Seseorang yang menjadi budak karena mendapat hukuman akibat perbuatan salah satu keluarganya, dalam hal ini hukuman kolektif, maka ia bisa menaikkan derajat sosialnya ke tingkat yang lebih tinggi. Setiap tahun, kerajaan menaikkan status sosial beberapa orang budak menjadi rakyat sipil. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi budak yang kabur.
Menjadi seorang budak artinya orang itu pernah menerima dakwaan atas tindakan melanggar hukum yang mereka lakukan. Karena seorang budak yang kabur meninggalkan tuannya tanpa membayar uang tebusan, maka mereka dianggap sama seperti tawanan yang kabur dari penjara. Untuk itu, budak yang kabur dianggap sebagai sampah masyarakat. Tidak peduli seberapa besar Sovieshu mencintai wanita itu, dia tetap tidak memiiki kesempatan untuk tampil di kalangan para bangsawan kelas atas. Dia juga tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu denganku. Aku menganggukkan kepala demi menyakinkan diriku.
Benar kata Countess Eliza, wajar jika aku merasa kosong ketika seseorang yang telah menjadi suamiku tiba-tiba tertarik pada wanita lain. Perasaan kehilangan atau kecewa itu bukan sesuatu yang besar.
Oleh karenanya aku tidak boleh larut dalam emosi sekarang. Tidak peduli Sovieshu memiliki simpanan atau tidak, dia tidak akan bisa menggeserku dari posisi ratu. Hanya akan ada satu Ratu di satu kerajaan.
***
“Raja terus mengecek kondisi budak itu setiap hari? Dan bahkan datang ke ruangan si budak?”
“Aku dengar raja bahkan membawakan sendiri makanan untuk budak itu.”
“Kalau begitu raja sangat berani. Dia bisa setenang itu melakukan hal yang tidak pada umumnya”
“Kau tahu? Raja juga memanggil dokter kerajaan untuk merawat kaki si budak.”
Suara bisik-bisik itu terdengar dari balik semak.  Meskipun kebun Istana kerajaan memiliki dinding tanaman yang tinggi menjulang, kira-kira setinggi Sovieshu, aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka samar-samar. Tapi masih terdengar jelas. Aku sendiri yang mendesain kebun ini. Dan aku sengaja meletakkan kursi gantung yang berbentuk seperti sarang di tempat rahasiaku ini. Aku jarang mengajak dayangku untuk datang ke tempat ini, seringkali orang-orang di seberang sana mengatakan banyak hal keras-keras tanpa tahu bahwa aku sedang mendengarkan.
“Sudah satu miggu,”
Aku menutup buku yang aku baca, kuletakkan sembarangan di pangkuan. Semakin Sovieshu tertarik dengan budak itu, maka gosip yang beredar tentangnya-pun akan semakin merebak. Perhatian semua orang sedang tertuju pada seorang wanita yang sedang berusaha mendapatkan cinta dari raja. Untung saja aku tidak pernah bertemu dengan wanita itu, karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya.
Di jadwal makan malam berikutnya, aku sama sekali tidak membahas tentang budak itu dengan Sovieshu. Aku berpura-pura bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi sehingga semua nampak berjalan begitu normal. Selagi makan malam, aku dan Sovieshu membicarakan persiapan perayaan tahun baru.
Aku telah memutuskan untuk berkompromi dengan diriku. Menahan rasa ingin tahu dan kesal yang sebenarnya terus menumpuk dalam hatiku. Tapi aku benar-benar telah memutuskan untuk abai. Sebaik mungkin beranggapan tidak tahu menahu tentang wanita budak itu.
Tetapi tiba-tiba sebuah kebetulan yang tidak menyenangkan terjadi, dan emosiku tersulut tanpa bisa dikendalikan lagi.

(SUROSO 6) PRIA FLAMBOYAN

Jakarta, waktu yang sama
Seorang pria berseragam batik coklat memasuki Cafe Phoenam tak jauh dari gedung MPR. Wajahnya nampak sedikit cemas tetapi tak terlihat jika tak diperhatikan dengan jeli. Kecemasan itu tertutup oleh sikap tenangnya. Pria itu memilih tempat duduk di pojok, menghadap keluar jendela, sehingga nampak olehnya kendaraan yang berlalu-lalang dan juga hydroponik yang bergelantungan di beranda Cafe. Diraihnya buku tebal bergambar sampul 2 laki-laki dan 2 perempuan yang sedang menaiki cikar di rak buku tak jauh dari tempat ia duduk.  Rak itu sengaja disediakan oleh pemiliki Cafe sebagai bacaan pengunjung. Ia kemudian memanggil pelayan, memesan segelas jus alpukat dan kopi hitam kental tanpa gula.
Setelah pelayan pergi, pria itu bergegas melihat layar ponselnya. Ia menulis beberapa karakter di pesan singkat lalu mengirimkannya kepada kontak bernama Bondan. Sejurus kemudian ia mulai membaca lembar pertama buku di tangannya.
“Kau bisa meletakkan buku karya Pram itu dan memulai pembicaraan kita.“ seorang pria bertubuh gempal dan berotot yang baru saja memasuki cafe duduk di hadapan si pria berseragam batik. Pria gempal itu berpakaian biasa, celana jeans panjang dengan bagian lutut bolong dan kaos pendek berkerah warna abu-abu. Suaranya sedikit berat dan serak.
“Kau tau waktuku tidak banyak.“ si pria berseragam menyahut.
“Maafkan aku. Aloe menahanku untuk pergi karena hari ini adalah waktu liburku.  Dia memintaku tetap tinggal bersamanya di rumah“
“Bondan. Bondan. Masih saja kau tidak bisa bersikap tegas kepada istrimu. Kau tau laki-laki bebas menentukan pilihannya, seharusnya kau menekankan itu kepada Aloe“, si pria berseragam menutup bukunya dan meletakkannya di meja. Ia menyeruput jus alpukat, “Bagaimana persiapan yang sudah kau lakukan?“
 “Semuanya beres. Tinggal eksekusi.“, Bondan melirik segelas kopi yang masih mengepulkan asap di depannya, “Itu untukku?“ ia menatap si pria berseragam.
“Untuk siapa lagi. Aku tidak pernah meminum sumber kafein itu.“ si pria berseragam menyahut cepat.
Bondan tersenyum. Ia meminum sedikit kopi lalu meletakkannya lagi di atas meja, “Pahit. Seperti ucapan pria berkelas di depanku ini“.
Si pria berseragam nampak acuh, ia tidak peduli dengan ucapan rekannya.
“Sasaran kita sudah terbang ke NYC satu jam yang lalu. Itu artinya paling lambat besok, di jam yang sama, dia sudah berada di Amerika. Kita biarkan dia beristirahat selama 7 jam, untuk membiarkan laki-laki tua itu berspekulasi dengan pujian-pujian yang akan diterimanya. Sementara dia beristirahat, kita lancarkan aksi ke zona X. Dan kita akan segera melihat hasilnya melalui media-media asing.“ ucap si pria berseragam, sesekali ia menengok ke kiri dan menoleh ke belakang, memastikan bahwa tidak ada orang yang akan mendengarkan pembicaraannya dengan Bondan.
“Aku mendengar kabar tadi malam Nuha terbang ke Dili, ikut pesawat carteran Reuters. Jika kabar itu benar, itu artinya dia akan meliput banyak hal terkait aksi-aksi di zona sasaran kita.“ Bondan memasang wajah datar, atau sebenarnya Bondan memang selalu berwajah datar, tidak pernah menampakkan ekspresi apapun. Senang susah sama saja. Setelah sejenak mengamati perubahan wajah lawan bicaranya, Bondan melanjutkan bicara “dan kita tahu bagaimana Nuha. Kita tidak bisa meremehkannya hanya karena dia masih bocah dan dia adalah seorang perempuan.“
“Memangnya apa yang bisa dilakukan jurnalis seperti Nuha? Dia hanya akan menulis dan paling mentok mengecam. Asal eksekusi berjalan sesuai rencana, tidak akan ada yang tahu campur tangan kita di zona X“ si pria berseragam menjawab dingin, “Yang terpenting, jangan ceroboh. Lakukan semua sesuai perintah. Aku tidak mau ada jejak“ dia mengecilkan suaranya, memberikan penekanan di setiap kalimat.
“Baiklah.“ Bondan kembali meminum kopinya, “Kau tahu resiko pekerjaan ini tidak kecil kan? Tentu saja aku akan melakukan setiap detailnya dengan hati-hati. Tetapi siapa yang bisa menjamin eksekusi akan berjalan lancar sesuai dengan yang telah direncanakan. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Aku mau kau bertanggung jawab penuh atas Aloe dan Fredi jika sesuatu terjadi, urus mereka dengan baik. Dan sebagai imbalannya, namamu akan tetap bersih.“ Bondan memandang si pria berseragam dengan tatapan tajam.
Pria di depannya terkekeh, “Bondan! Bondan! Kenapa kau berbicara seolah-olah umurmu tinggal sehari! Aku pastikan kau akan berjumpa dengan Aloe dan putramu itu lagi. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.“ Si pria berseragam kembali duduk dengan tenang. Ia menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri, berbicara dengan serius dan volume suara yang kecil “Kau tau siapa aku! Kalaupun sesuatu yang buruk terjadi, aku akan dengan mudah membersihkan namamu dan mengeluarkanmu dari hotel prodeo. Apa lagi yang kau khawatirkan?“ Pria itu meminum separo jus Alpukatnya lalu meletakkannya kembali di meja.
Setelah membenahi kerah baju dan memastikan bahwa seragam yang dikenakannya masih rapi, ia berdiri, “Habiskan kopimu. Aku akan ke kasir dan kembali ke kantor.“ Tanpa menunggu jawaban dari Bondan, ia segera beranjak menuju kasir, menyerahkan selembar uang 50an, lalu berjalan ke arah pintu keluar Cafe Phoenam yang berbahan kaca.
“Kenapa mereka susah-susah memasang pintu putar ini, membuang waktu saja“ pria berseragam itu menggumam kesal. Ia terlihat kesusahan dan tidak sabaran melewati pintu putar yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari cafe Phoenam. Selain tidak praktis, baginya pintu putar adalah hal yang menyusahkan. Dia tidak tahu, bahwa niat pemilik cafe memasang pintu itu adalah untuk efisiensi pemakaian AC dan menjaga kualitas udara.
Pria berseragam itu kemudian terlihat menyeberang jalan dengan tergesa. Tanpa lupa mengecek ulang kerapian bajunya setiap beberapa menit sekali, ia terus berjalan menuju pintu utama gedung MPR, dan kemudian lenyap tak terlilhat.
“Dasar pria flamboyan! Pantas saja dia digandrungi banyak wanita“ Bondan berbisik pada dirinya sendiri. Sedari pria berseragam itu berdiri dari tempat duduknya sampai lenyap di pintu gedung MPR, Bondan tak berhenti menamatinya. Barulah setelah pria itu tak terlihat, Bondan kembali melirik kopinya. Untuk beberapa lama, Bondan masih setia menikmati kopi yang tinggal setengah gelas. Jari-jarinya yang pendek dan gemuk diketuk-ketukannya pada meja kotak berbahan kayu di depannya. Setelah meneguk cairan kopi yang terakhir dan merenung beberapa saat, ia lantas beranjak pergi.


***