YANG DIKENANG DAN TERPINGGIRKAN, HARUN SUROSO
Sudah kukatakan sebelumnya, tidak ada kawan
atau lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Siapa suruh dia tetap
mempercayaiku. Maka ketika aku menghianatinya, tentu itu bukan hal yang keliru.
Dan sudah barang tentu, dia tahu, aku tidak
mungkin melakukan ini kalau saja dia mau mendengar setiap ucapanku.
Sajak Patah Hati (1): Mengapa Kutulis Ini
Ya, aku
menulis ini untuk mengenangmu.
Manusia
memang tidak boleh mendahului kehendak Tuhan.
Tetapi
entah kenapa aku ragu bisa membersamaimu,
seperti Memo yang membersamai
Pepo,
Seperti
Ibu Hasri Ainun yang mendampingi Bapak Habibie.
Sajak Patah Hati (4): Biarkan Takdir yang Berkata
(1)
Aku mulai
menyukai nasihat Pak Quroish Syihab
"Barangkali
pernikahanmu yang tertunda adalah berkah".
Iya,
barangkali memang demikian.
(2)
Aku tidak
tahu bagaimana perasaan ini akan berakhir.
Aku tidak
melihat ada kemungkinan-kemungkinan.
Dan aku
khawatir,
(3)
Aku tahu
harus ku akhiri kegilaan ini.
Dan di
malam lebaran, aku berdoa yang terbaik.
Untuk aku
dan dia.
Jika
memang dia, Wahai Allah - maka dekatkan.
Karena sesungguhnya Engkau Dzat yang
Maha menyatukan dua hati.
Jika
bukan dia, Wahai Rabb - Ikhlaskan.
Sajak Patah Hati (2): Seperti Rindu
Merindu
selalu saja menyenangkan.
Tetapi
merindu orang yang salah, agaknya mengkhawatirkan.
Aku tidak
tahu bagaimana harus kuselesaikan ini.








