Meramu

MERDABA ~ Meramu Damai Bersama

SASTRA

Goresan Tinta Cerpen dan Puisi

BOOK CORNER

Temukan Rekomendasi dan Review Buku dari Meramu.com

SEPUTAR ISLAM

Artikel Seputar Islam.

Biology Corner

Belajar Biologi Bersama

SENJA PARAKAN




Aku termenung. Menyudutkan diri di pojok belakang bis Semarang. Tak ada yang jatuh dari manik mata, tapi hati lebam tak terkira. Aku gagal mengintisari ayat bisa jadi kau menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan bisa jadi kau membenci sesuatu padahal ia baik bagimu.

SEKAR DI BULAN SAPAR



Bocah-bocah bau kencur itu berlarian. Saling berpegang tangan. Melingkar. Menyanyikan lagu sluku-sluku bathok dibawah tumpah ruahnya sinar rembulan desa Gedangan. Bocah-bocah itu menyembulkan tawa sumringah di wajahnya, mengabaikan tatapan nyi towok yang sendu ditengah benderangnya wulan tanggal 15 Sapar.

BAIQ KUDUNGGA DAN TEMAJUK SENJA




Minggu.. 21 September 2013 12.31 WIB, dalam jeep biru tua
Lautan coklat membentang sepanjang mata berakomodasi. Semak belukar sedikit ikut andil di padang sabana yang rumputnya berupa bulir pasir coklat. Lemak-lemak dibawah lapisan kulit kusamku mulai merembes keluar. Matahari mentereng di atas ubun-ubun. Membuat udara begitu panas. Kutaksir suhunya mencapai 32° C. Look, how hot the weather is.

APA KABAR FAJAR?




Hari ini senin. Aku tengah menungu jam bioteknologi seraya menatap keluar jendela lantai 3 gedung GKB. Hanya parkiran dan graha cakrawala yang nampak di pelupuk mata. Juga gunung putri tidur yang samar-samar berwarna biru. Sepeda motor, kadang-kadang mobil, berlalu lalang melintasi jalan cakrawala. Sibuk dengan urusan masing-masing. Mengabaikanku yang takzim memandanginya dengan pandangan nanar.

FROM BAJULMATI WITH LOVE




Hamparan laut selatan tersuguh di depan mata. Panorama yang sempurna. Ditambah deret pegunungan yang berjejal beberapa meter di muka pantai. Pemandangan menjadi tak terperi cantiknya. Dua setengah jam perjalanan dengan truk terbayar sudah. Tak ada lelah yang bersisa di hati. Bahkan mual akibat mabuk daratkupun telah pergi.

PILU



Sebelumnya kita telah tahu – bahwa yang bernyawa pasti tiada,

Kita berada di semesta yang sama hanya pada titik yang berbeda




Selamat malam Arma.
Aku tidak tahu bagaimana tempatmu sekarang. Kuharap indah. Aku rindu. Pada hadirmu yang tidak setiap saat tapi selalu bisa meneduhkan. Seandainya kau masih di alam yang sama, mungkin kita juga tidak akan bicara apa-apa. Tidak ada yang begitu perlu kita bicarakan.