Meramu

MERDABA ~ Meramu Damai Bersama

SASTRA

Goresan Tinta Cerpen dan Puisi

BOOK CORNER

Temukan Rekomendasi dan Review Buku dari Meramu.com

SEPUTAR ISLAM

Artikel Seputar Islam.

Biology Corner

Belajar Biologi Bersama

SAUDARA ADALAH MENYATUKAN YANG BERBEDA

SAUDARA ADALAH MENYATUKAN YANG BERBEDA
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Perbedaan dalam umatku adalah rahmat“, itu artinya perbedaan memang sesuatu yang sudah pasti ada dan tak akan bisa dihindari. Oleh karena itu kita tidak bisa mengambil dalil...Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Perbedaan dalam umatku adalah rahmat“, itu artinya perbedaan memang sesuatu yang sudah pasti ada dan tak akan bisa dihindari. Oleh karena itu kita tidak bisa mengambil dalil berbeda untuk berpecahbelah satu dengan lainnya. Karena bukankah saudara hakikatnya adalah menyatukan berbagai perbedaan menjadi satu rasa? Kalaupun tidak rasa, paling tidak perbedaan itu adalah jalan bagi kita untuk dapat saling menghargai dan mengerti.
Ibaratnya seperti menyeduh kopi, andai saja kopi sama rasa manisnya dengan gula, mana mungkin kita akan merasakan wedhang kopi yang nikmat dengan perpaduan rasa antara manis pahit yang pas. Jika kopi sama rasa manisnya dengan gula, tentu saja kita hanya akan merasakan wedhang gulo bukan wedhang kopi. Atau andai saja gula sama rasa pahitnya dengan kopi, tentu saja ketika menyeduh kopi kita hanya akan merasakan getir yang tidak enak di lidah. Seperti itu jugalah perbedaan, akan membuat suatu kebersamaan menjadi lebih berwarna dan seimbang.
Mengapa kita harus berbeda dan bersaudara dalam perbedaan? Bukankah menjadi sama dan satu warna lebih menyenangkan?
Pada dasarnya, Allah swt. telah menciptakan segala sesuatu dengan berbeda; dan perbedaan itulah  yang kemudian membuat kehidupan menjadi lebih sarat makna. Perbedaan juga akan memperkaya khasanah suatu peradaban. Karena berbeda itu sendiri adalah fitrah, maka musykil kita akan melawan perbedaan yang ada. Musykil juga jika kita ingin menyeragamkan yang berbeda itu menjadi satu warna. Walhasil, menerima perbedaan dan menyikapi perbedaan itu dengan bijak adalah solusi yang tepat.
Dengan demikian, kita tidak perlu berusaha menyalahkan siapapun yang pemikirannya tak sejalan dengan kita, tidak perlu juga mengklaim diri paling benar dan orang lain salah. Yang seperti itu terlalu kaku dan monoton. Sudah tidak zaman lagi. Sebab tidak menutup kemungkinan, kita, manusia yang notabene adalah mahal al khoto` wa an nisyan, sekali dua kali atau bahkan bisa lebih dari berkali-kali bisa saja sewaktu-waktu berbuat salah. Berhubungan dengan ini, Gus Dur pernah berkata, “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berati merendahkan dan menistakan penciptanya“. Jadi, hanya manusia yang benar-benar manusia yang dapat memanusiakan manusia dengan menghargai keberadaan dan pilihan mereka.
Demikian pula dalam berislam. Jauh sebelum abad 21, Nabi telah menyebutkan bahwa umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan; yang terkait ini masih diperebutkan tentang siapa 1 golongan yang masuk surga. Kita mengenal satu golongan itu sebagai Ahlussunnah waljama`ah. Sehingga sekarang kita memaklumi banyaknya firqoh yang dewasa ini mengaku sebagai Ahlussunnah waljama`ah. Tentang siapa yang paling benar. Wallahu a`lam. Tidak perlu diperdebatkan panjang lebar.
Yang terpenting sebagai umat Islam, kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti jejak dan aturan Rasulullah saw dalam menjalankan syariat Islam serta menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Mengikuti berarti mengikuti dengan mengerti apa yang di ikuti. Tidak sembrono mengikuti sesuatu yang berasaskan katanya. Tidak manut grubyuk hanya karena sesuatu itu diikuti oleh banyak orang. Akhirnya hanya jadi ikut-ikutan.
Namun, kalau kita belum bisa menafsiri Al Quran atau mencerna hadist sendiri, kita harus berguru kepada Ustadz atau Kiai. Ustadz yang benar-benar Ustadz, bukan Ustadz yang baru kemarin belajar tentang Islam dari buku bacaan, Youtube, maupun artikel di InternetUntuk hal ini, KH. Marzuki Mustamar (Pengasuh Ponpes. Sabilurrosyad Malang) pernah mengatakan bahwa tidak semua orang paham akan makna Alquran yang sesungguhnya. Jadi memang harus meguru pada orang yang tepat dan sudah menyamudra ilmunya.
Dari sini, maka belajar kepada ulama` dan mengikuti ulama sangatlah dianjurkan. Karena mempelajari ilmu agama itu bagaikan menaiki anak tangga; anak tangga pertama adalah ulama`, selanjutnya tabi`ut tabi`in, berikutnya lagi tabi`in, berlanjut pada sahabat, dan barulah kita akan sampai kepada Nabi Muhammad saw, dan pada akhirnya kita akan sampai kepada Allah swt.
Dengan demikian, apakah mungkin kita akan sampai pada tangga teratas jika tidak menaiki tangga yang paling bawah terlebih dahulu? Bisa-bisa kita terjatuh dan tidak pernah sampai pada tangga paling atas, yakni Allah swt.

A MOMENT WITH GUSDURIAN

image
Such a Great Moment.

Selasa kemarin, teman-teman Gusdurian mendapatkan undangan untuk menjadi paduan suara (kor) di Gereja Katedral, Idjen Suites, Malang. Beberapa hari sebelumnya ada latihan, tetapi karena latihannya malam jadi aku dan Mbak Mal ga bisa ikut.
Akhirnya kami berdua bonek, yasudah ikut sajalah. Paling ga kan udah ngerti gimana lagu syi-ir tanpo wathonnya Gus Dur, it wont be a a problem. Lagipula ini sudah waktunya balik lagi ke Gusdurian mengingat kami berdua sudah lama ngilang =D, setengah usaha untuk menjadi khusnul khotimah juga karena sebentar lagi kami akan boyong.
Sekitar jam 2 siang aku dan Mbak Mal berangkat dari pondok menuju OASE Coffe and Literacy, basecamp Gusdurian yang ngerapel jadi basecampGubuk Lentera, Sabda Perubahan, warung kopi, dan salah satu rayon PMII UIN. Sesampainya disana kita menemui teman-teman Gusdurian yang kesemuanya adamiyyun.
Perempuannya Cuma kita berdua dek Us? Mbak Mal ragu-ragu untuk masuk. Ini ceritanya kita masih mbulet di parkiran, masih ngerasa canggung, masih mbatin harus ngapain.
Kayaknya iya Mbak, yaudah kita duduk di depan saja.
Gus Viki adalah orang pertama yang kami sapa, sebenanya yang nyapa mbak Mal, akunya langsung duduk (dasar aku >,<, kapan mau belajar sopan santun sama yang lebih tua =D). Karena mbak Mal berjabat tangan jadinya aku ikut-ikutan. Baru kemudian duduk lagi.
Selanjutnya kami ngobrol santai sama Dito, Gus Najib, dan Mbak Dika yang baru datang ga lama setelah aku dan mbak Mal duduk. Topik pembicaraan lebih condong ke acara seleksi Duta Perdamaian yang beberapa hari sebelumnya di gelar di Malang.
Mbak Dita itu seorang kristiani, gatau semester berapa dan berapa umurnya, tetapi aku salut sama Mbaknya. Beliau selalu apa adanya dan grapyak ke semua orang. Pemikirannya tentang filsafat mantep banget. Mungkin gara-gara itu mbaknya jadi penanggung jawab kelas filsafat di Oase.
Dulu, awal* banget aku rada shock ngelihat mbak Dika ngerokok waktu KPG, kok cewek ngerokok? Itu yang tak pikirkan. Gimanapun aku masih asing sama cewek perokok. Tetapi kemudian kejanggalan itu menjadi suatu hal yang biasa mengingat mbak Dika ga ada unsur nakal-nakalnya. Dia baik dan supel, kritis dan luwes.
Dan sejak saat itu aku mengganti paradigmaku, ga semua cewek perokok itu bukan orang baik-baik. Tetapi alhamdulillahnya, kemarin waktu di katedral mbak Dika bilang kalau dia udah ga ngerokok. Katanya sudah gede, mau insyaf.
Tak lama berselang kita cuss ke gereja. Disana kami menjumpai banyak bis yang membawa romobongan dari berbagai negara dan panitia berseragam biru tua.
Masuk gereja lagi batinku. Cuman bedanya dulu gereja kristen, sekarang gereja katholik.
Disana aku menemukan Rifandi (eeeak menemukan =D). Rifandy Aduri sepertinya jamaah di gereja katedral, dia beragama katholik. Teman seangkatan KPG yang dulu tak titipin shampo head and shoulders terus uangku kurang dan orangnya gamau dibayar.
Kecil Fan, tapi terimakasih ya ^^ aku kan jadi merasa berhutang budi haha
Tak lama kemudian Pendheta Tathok dan Mrs. Charlotte datang. Seperti biasa, Pendheta Tatok selalu memasang senyum di wajahnya. Selalu menentramkan. Dan Mrs. Charlotte, selalu sumringah di setiap kesempatan. Mereka pasangan yang serasi.
10 menit berikutnya, setelah semua peserta datang, kita move ke depan gereja (tadinya di samping gereja, markir motor). Mempersiapkan diri untuk tampil.
Fan, kamar mandinya mana? Aku bertanya ke Fandy sebagai jamaah gereja yang pastinya lebih tahu.
Di belakang, dia menunjuk arah, sini wes ayo akhirnya he leads the way.
Dek Us ayo tak antar, Mbak Mal menawarkan diri. Akhirnya kita ke kamar mandi bertiga.
Jauh juga ya =D ucapku di tengah jalan.
Iya, kamar mandinya di dalam gereja, jadi nanti kamu harus lepas kerudung, Rifandy yang berjalan di depanku menyahut.
Eh aku spontan ngomong
Engga engga Uswatun. Bercanda Fandy terkekeh.
Mbak Mal bingung, kenapa Dek Us?
Katanya Fandy kalau masuk kamar mandi harus lepas kerudung Mbak =D.
..
Begitu keluar dari kamar mandi, aku ngelihat mbak Mal, mbak Dika, dan Fandy duduk-duduk di depan. Mereka lagi ngobrol asik, salah satunya tentang gereja mormon, semacam gereja dengan jamaah kaholik kuno dari daerah Amerika timur (atau mana aku lupa). Yang jelas kalau dalam Islam, gereja Mormon itu kayak beda aliran gitu sama gereja lainnya.
Tak lama kemudian ada bapak-bapak lewat,
Kalau aku, semua orang kalau laki-laki tak panggil Pak, aku kan sekolahnya di jurusan Theologi ya, tapi tetap saja semua dosenku tak panggil Pak. Kalau manggil Romo, takutnya salahsiapa tahu dia mantan romo. Nanti jadinya malah menyinggung. Ucap Mbak Dika.
Loh, ada mantan romo? Aku kepo.
Iya Romo itu ga boleh nikah, nah kalau dia nikah dia berganti jadi mantan Romo. Mbak Dika menjelaskan.
Kemudian obrolan berlanjut tentang romo, pendheta, dan biarawati. I feel so much grateful bisa punya teman-teman dari lintas agama dan bertukar pikiran tanpa harus merasa canggung dan menyinggung.
Kita selalu fine fine saja meskipun memiliki kepercayaan yang berbeda. Kita saling menghormati dan menghargai tanpa perlu harus saling merasa paling benar. Dan itu adalah salah satu point plus dari Gusdurian, nilai yang diajarkan oleh Gus Dur untuk menghargai kemanusiaan. The Human Rights.
Setelah para penari Sufi selesai berganti pakaian dan keluar dari kamar mandi kita balik lagi ke depan gereja.
Aku ga nyangka acaranya bakalan serame itu. teman-teman Gusdurian mendapatkan kesempatan tampil di awal acara, dengan alas banner putih, kita yang berseragam hitam-hitam baris di depan gereja menghadap ke arah timur (kalau aku ga salah arah sih). Tepatnya menghadap pintu gereja. Mas Viki jadi penabuh ketimpung dan mas Herry jadi gitarisnya. Aku sendiri baris di shof depan di samping Gus Billy dan Mbak Mal. Di depanku ada tiga penari sufi yang bau bajunya wangi banget (salfok =D). Penari sufi itu juga bagian dari teman-teman Gusdurian.
Sekedar pengingat, Gus Billy ini biarpun dipanggil Gus, dia aslinya orang Budha. Mripatnya sipit banget. Aggak chibi gitu dan kulitnya lebih bersinar daripada aku hahai.
Mrs. Charlotte ga di depan? Aku ngomong sama Mrs. Charlotte tapi beliaunya ga paham dan aku jadi gatau harus ngomong apa. Perasaan bahasa inggrisku ga buruk-buruk amat. Tapi kalau mikir tenses di saat-saat seperti itu kok ya ga matuk. Masak aku mau bilang please come forward miss atau you ought to be in front of the line miss Rasanya formal banget, dan siapa aku nyuruh2 =D jadi akhirnya aku Cuma bilang Nngg,,
Me in front? Jawab Mrs. Charlotte setelah mencerna apa yang aku ucapkan. No no, yang tinggi di belakang. Biar adil. Ucap beliau kemudian.
Awalnya ngerasa nervous, ini pertama kalinya aku tampil di depan banyak orang dari berbagai daerah dan tanpa persiapan. Mereka adalah pemuda-pemuda yang menjadi delegasi pertemuan pemuda katholik se ASIA, dan aku sama sekali ga sempet bicara sama mereka, eman ga sih. Datang tok.
Begitu ketimpung di tabuh dan gitar dibunyikan kita mulai menyanyikan syiir tanpa wathon. Di tengah nyanyian, para romo datang berbaris di depan kami, ya Allah rasanya damai banget. Kita bisa hidup dalam kebersamaan tanpa harus berseteru. Rasanya adem banget ketika ga ada orang yang merasa paling benar. Rasanya sangat beruntung bisa menjadi bagian dari acara ini.
Begitu selesai nyanyi, tepuk tangan yang riuh menyambut kami. Setelah selesai foto-foto, kita saling berjabat tangan. Romo-romo itu mengatakakan
Terimakasih ya. Bagus sekali. Terimakasih.
Rasanya sesuatu sekali. Menyenangkan. Membanggakan. Dan banyak me- me- positif lainnya.
Selanjutnya para jamaah katholik melanjutkan acara berdoa mereka di dalam gereja, para Gusdurian stay di luar. Persiapan pulang.
Sebelum pulang aku dapat kesempatan ngobrol sama Mrs. Charlotte terus foto-foto juga.
Terus salaman deh sama mereka and then pulangThanks god.
Di perjalanan pulang aku membatin, Alhamdulillah Allah memberiku kenikmatan Iman dan Islam. Alhamdulillah Allah memberiku kesempatan bertemu dengan orang-orang seperti mereka. semoga Allah senantiasa meluaskan pandanganku dan menguatkan agamaku.
Ya muqollibal qulub tsabbit qolbii alaa dinik.

Berteman tanpa terpengaruh, berjabat tanpa mewarnai, bersatu, bersama dalam harmoni.
Love in peace

MEREKA TIDAK BERBEDA, HANYA UNIK

imageSaya pernah sekali mengenal seorang autis dan memiliki kesempatan 3 bulan dekat dengannya. Dia adalah penyandang Asperger Syndrome dan baru berumur 8 tahun. Penyandang Asperger umumnya memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Itu sebabnya mereka sering mendapat julukan Profesor.
Anak tersebut bernama Sultan Haidar Misbahul Ihsan. Biasa dipanggil Ihsan. Dia sangat lucu dan lovable. Aku sangat menyayanginya semenjak hari pertama mengenalnya, sudah seperti adik sendiri.
Tetapi kecerdasan dari seorang Autis seringnya tertutupi dengan sikap mereka yang Anti Sosial dan kurang dewasa. Sebagaimana anak autis lainnya, Ihsan lebih nyaman berada dengan dirinya sendiri. Setiap pagi ia sering sekali berdiri di samping kolam, sekedar untuk melihat ikan-ikan berenang atau memberi mereka makan dengan lumut yang menempel di bebatuan di sekitar kolam. Setiap istirahat, Ihsan lebih suka menghabiskan waktu untuk mengamati burung ataupun ayam di kandang. Ia akan bermain dengan temannya apabila temannya yang mendekati. Tetapi itu tidak selalu.
Untuk anak SD, bahasa inggris Ihsan bisa dibilang bagus. Pengetahuannya tentang negara-negara dan ibukota sangat baik. Begitu juga dengan wawasannya tentang benda-benda angkasa dan IT, bagus. Terkadang juga aku akan merasa sulit untuk menjawab pertanyaannya yang terkadang melampaui nalar anak SD kelas 2. Terlalu jauh.
Ihsan tidak suka terlalu lama berada di kelas. Dia beberapa kali membohongiku ingin buang air. Setelah izin keluar kelas ia akhirnya berlari-lari dan ngece aku. Aku hanya senyum dan mbatin. Tak apalah, asal dia bahagia.
Ihsan juga tidak suka dengan suara keras. Dia sangat peka dengan suara. Begitu juga dengan hal yang terlalu saklek. Untuk waktu tertentu akan sulit sekali untuk mengarahkan Ihsan mengerjakan tugas dari guru. Ketika dia tidak mau itu artinya dia benar-benar tidak mau. Sulit dipaksakan.
Tak jarang dia menangis ketika aku memaksanya mengikuti ekstra mengaji atau menggambar. Benar-benar harus pandai menghibur dan mencari alasan. Hal yang tidak logis tidak akan pernah diterima oleh Ihsan.
Biasanya aku akan membujuk dengan Ihsan mau tidak naik kelas? Ihsan ga pengen buat Uminya Ihsan bangga?
Dan dia akan selalu menjawab Ihsan mau buat Umi bangga Mbak Uswah. Ihsan mau naik kelas.
Bagaimanapun, autis bukanlah penyakit jiwa – hanya saja mereka memang berpikir dengan alur yang sedikit berbeda. Dimensinya sedikit lain.
Mbak Uswah rindu Ihsan :* semoga kelak Ihsan bisa tumbuh menjadi anak yang selalu membuat Ummi Diah bangga. Aamiin.

SAHABAT RASA KELUARGA

Hasil gambar untuk UPTaman Ngronggo. 4 Agustus 2017

Duduk bersama dalam satu ideologi itu menyenangkan. Duduk bersama berbeda ideologi dengan toleransi dan penghargaan yang tinggi juga tidak kalah menyenangkan.
Alhamdulillah.
Aku bersyukur sekali. Jam 6.17 kemarin aku tidak menyangka akan menginap di Kediri tadi malam. Bertemu dengan sahabat-sahabat pergerakan dari PMII Sunan Ampel STAIN Kediri. Serasa menemukan keluarga yang sudah lama tidak dijumpai.
Kemarin sebenarnya tidak memiliki niatan untuk pulang. Entah kenapa selesai membantu Buk Vil mempersiapkan sidang akhir, aku tergerak untuk pulang. Setelah menelfon Bapak dan meminta izin, aku bergegas menyiapkan diri. Sayangnya aku belum sempat izin pondok. Merasa berdosa juga sebenarnya, tapi mau gimana lagi.
Di telepon Bapak bilang gimana kalau sekalian disuruh ngantar adik daftar ulang ke Kediri. Aku oke oke saja, lagian menurut prakiraanku sore kita sudah pulang, cuss ke Tuban.
Jam setengah 11, setelah nyambut sidang, aku berangkat dari Malang dengan kondisi yang sebenarnya kurang fit. Entah karena tidur kemaleman atau karena terlalu capek kemarinnya, di tengah jalan aku merasa ngantuk. Alhamdulillahnya masih bisa tertahan. Cuman ya gitu gabisa maksimal nyetirnya, agak pelan.
Sudah gitu, pas di jalan arah Paralayang, jalan sebalan seperti biasa yang sekarang sudah dipasang tanda satu arah, aku di tilang polisi. Dengan pura-pura tidak tahu dan tampang yang tidak berdosa aku bertanya
Loh, kenapa Pak?
Ini jalan satu arah Buk. Jawab si Polis.
Buk?? Hello Pak, aku masih mahasiswa kali. Masih mbak-mbk. Batinku. Aku jadi merasa tua kalau dipanggil Ibuk.
Selanjutnya aku mengikuti alur penilangan. Semua orang yang kena tilang dikumpulkan di satu titik tak jauh dari lokasi aku dihentikan. Yang kena tilang membludak, soalnya itu peraturan yang biasanya ga fungsi. Aku tidak menyalahkan mereka yang melanggar juga tidak menyalahkan polisi karena aku juga telah melanggar aturan. Sadar diri lah.
Dengan wajah yang tetap datar dan pembawaan yang keleewat santai aku mendekati petugas yang memegang STNK,
Pak, 3889 HDS. Eh SHD, eh S 3889 HD Ucapku
Beliau mengulangi perkataanku ke petugas lain yang tengah menulis surat bukti.
Gak ada Pak. Petugas yang dituju berucap.
Belum berarti Mbak. Tunggu dulu.
Bapak ini gatau aku lagi diburu waktu ya. Batinku sambil ngelihat-lihat ke tumpukan berkas.
Itu pak STNKnya, disitu. Ucapku setelah melihat STNKku digeletakkan begitu saja.
Beliau lantas mengambilnya dan bertanya, ini mau dibayar di Bank BRI atau diurus disini Mbak?
Karena Bapaknya nggremeng kalau ngomong aku jadi ga paham apa yang beliu ucapkan,
Eh apa Pak? Sahutku. Beliau lalu mengulangi statementnya lagi.
Oh, gimana itu Pak? Kalau bayar di Bank berapa kenanya? (kalau ini asli aku ga paham dengan alurnya).
Kalau di Bank bisa lewat transfer Mbak, bayarnya 500 ribu.
Aku shock tapi ekspresiku masih datar dan santai sebagaimana aku datang.
Wah mahal ya Pak. Cetusku. Itu respon, entah kenapa aku buiasa sekali menghadapi polisi. Toh mereka juga manusia biasa, jadi ga perlu gugup dan ga perlu takut kan.
Memang aturannya segitu Mbak.
Aku diam sejenak. Mbatin-mbatin ria. Lah kalau ngurus disini berapa Pak?Ucapku kemudian.
Kalau langsung bayar disini 150 ribu Mbak.
Kok bedanya jauh banget. 350 ribu. Batinku. Untung saja sebelum berangkat aku ngambil uang di ATM 300 ribu. Jadi bisa langsung bayar, coba engga pasti udah kena 500. Alhamdulillah. Allah memang telah mengatur segalanya dengan apik. Setelah surat beritaku di urus dan memperlihatkan KTP, aku melanjutkan perjalanan.
Yah, paling ga jadi pembelajaran lah. Bahwa sebebas apapun hak asasi manusia, kita harus tetap mentaati peraturan yang ada. Lagian hidup tanpa aturan juga ga enak. Ambil positifnya saja. Mungkin akunya juga kurang shodaqoh.
..
Jam 1 lebih sedikit aku sampai di Terminal Jombang, disana aku menemui seorang laki-laki, menurutku lebih seperti Bapak-Bapak. Beliau supel sekali, bertanya ini itu. awalnya aku hanya sekedar basa-basi menjawab pertanyaan Beliau. lagipula aku sedang makan es krim jadi ga mood ngomong banyak. Setelah agak panjang pembicaraannya, akhirnya aku nanya
Loh Bapak darimana mau kemana?
Beliau menjawab dari Semarang mau ke Jombang. Aslinya memang Jombang, jadi niatannya mau pulang kampung.
Dari Semarang ngapain?
Ternyata Beliau habis legalisir ijazah. Baru saja lulus dari sekolah pelayaran di Semarang.
Aku manggut-manggut. Mencari ilmu memang tidak dibatasi umur. Batinku.
Setelahnya adik datang, kita langsung berangkat ke Kediri.
..
Sesampainya di Kediri, kita langsung menuju ruang registrasi. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. selesai dengan urusan daftar ulang kampus, adik mengatakan kalau harus registrasi OBAK (lebih dikenal dengan OSPEK) setelah daftar ulang kampus. Tetapi kantornya sudah tutup jam 14.00.
Mau balik ke Tuban lagi seems impossible. Mau nginep akunya juga males. Ini kan kota orang, aku juga ga punya link disini. Selain itu hapeku juga rusak, gapunya kontaknya siapa-siapa.
Akhirnya aku nyuruh duduk-duduk dulu. Berpikir dengan kepala dingin. Di depan ruang pendaftaran di pasang banner gede. Kebetulan ada kontaknya juga, jadi aku menghubungi CP Tarbiyah. Namanya Annas. Lobying tipis-tipis tapi gagal. Aku dan adik harus tetap menunggu besok karena proses registrasinya lumayan panjang jadi gabisa dititipin.
Waktu itu Mas Annasnya kebetulan datang ke tempat kita. Aku yang kesannya sok kenal manggil-manggil gitu saja. Padahal sebelumnya juga ga pernah ketemu =D. Gapapa, anggap adik sajalah. Toh dia memang adik kan. Keluarga baru.
Sambil menunggu dan masih mencari solusi, adikku menghubungi Ilham, temannya ketika di Sunan Drajat dulu. Ilham mengajak kami untuk mampir di sekretnya DEMA Ahwalus Syahsiah. Disana aku berjumpa dengan teman-teman baru, namanya Mas Fauzan (angkatan 2012) dan Dek Nafi` (angkatannya adikku). Mereka berdua orang yang enak diajak ngobrol dan berdiskusi. Kita bertukar cerita ala-ala perkenalan gitu.
..
Tidak lama kemudian Ilham mengantar aku dan adik ke pondok Al Amien untuk mencari informasi. Setelah dari Al Amien aku mengantar adik balik lagi ke sekret Dema untuk menginap. Aku sendiri berniat untuk mbolang. Yah mumpung di kota orang lah, cari pemandangan dan pengalaman baru.
Rencana awalnya mau stay di masjid agung. Jadi sholat maghrib aku disana. Ndelalah disana ketemu sama adik-adik cewek, gara-gara sama-sama mencari kamar mandi, kita jadi ngobrol banyak. Dia maba tahun ini dan akan kuliah di ITB jurusan Fisika murni. Aslinya Jombang, tapi namanya aku lupa. Sepertinya Yuni.
Selesai jamaah sholat maghrib, Yuni pamit undur diri. Aku mengiyakan. Setelahnya ada Mbah-Mbah dengan perilaku yang agak nyentrik menurutku mengajakku bicara. Mbah itu wiridan menggunakan tasbih tapi mencolok sekali. Seperti sengaja diperlihatkan. Hawa ademnya mohon maaf menurutku ga ada.
Sebagai anak muda Indonesia yang terkenal sopan santunnya eaaah =D aku meladeni Beliau bicara dengan tanpa menanggalkan senyum di bibir. Awalnya nyambung-nyambung saja, Beliau bertanya asal, aku darimana dan sebagainya. Awalnya aku sekedar menjawab. Tetapi kemudian Beliau menjadi sedikit tidak jelas dengan cerita macam-macam. Di dalam hati aku memperkuat dzikir, siapa tahu nanti aku di gendam jadi harus pasang perlindungan. Beliau cerita ingin memberi makan 30 anak yatim tapi tidak punya uang, cerita ingin ke Bojonegoro dan Denpasar Bali tapi tidak ada sangu, cerita anaknya yang dijual orang dan dikurung dibawah tanah dengan tidak diperlakukan seperti manusia, cerita tentang membuat pentol, cerita kemana-mana jalan kaki dan naik kereta, cerita tadi malam tidur di Masjid dan lain sebagainya.
Di tengah obrolan aku memagn sengaja memancing tentang keluarga untuk mencari tahu siapa Beliau. setidaknya dengan bertanya balik aku tidak akan terlalu jauh masuk dalam alur pembicaraan Beliau. aku harus mengimbangi.
Jujur di dalam hati aku membatin mbah ini kok aneh banget. Eh tapi gaboleh gitu, ga boleh su-udzon. Duh kapan adzan isyaknya dikumandangkan. Aku harus mencari jalan keluar untuk mengakhiri pembicaraan. Si Mbah kayaknya ga ada niatan mau selesai ngomong. Si Mbah juga sempat ngomong, kalau sampean ada duit bolehlah saya dibantu.
Aku mesem saja sambil mengatakan kalau duit ga ada Mbah. Itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari ucapku. Nah ini modusnya kelihatan batinku
Sambil terus menjawab dan bertanya balik dan lirik-lirik jam, akhirnya aku memilih untuk melepas mukena.
Oh gitu ya jawabku sambil memasang senyum semurni mungkin. Akhirnya aku pamit dan meninggalkan masjid Agung. Gagal sudah rencana nginep di Masjid. Lagipula aku juga gak yakin akan mendapatkan izin dari takmir. Tapi kuakui seukuran mbah-mbah, wawasan mbah itu lumayan juga. Aku tetap tidak tahu Beliau siapa. Anggap saja musafir.
..
Dari masjid Agung, aku beralih ke Masjid Nurul Huda. Setelah sholat isyak aku izin ke takmir untuk menginap tetapi tidak diperbolehkan. Sebelum itu, sesaat menjelang sholat isyak didirikan, Mas Annas yang CP tadi menelepon, bertanya aku dan adik dimana, kalau mau nginep nanti nginep di STAIN bisa, kebetulan ada perempuannya juga. Itu tandanya mas Annas orang yang peduli, buktinya dia masih memperhatikan teman yang baru dikenalnya tadi sore.
Beralih ke rencana C, aku memutuskan untuk menginap di depan Alfamart atau indomaret. Aku sudah terlanjur bilang ke Mas Annas bahwasannya adik nginep di seketrariat Dema. Di tengah perjalanan pulang aku melihat ada sebuah warung kopi, namanya Shine. Akhirnya aku berhenti disana, sekedar untuk memikirkan apa yang akan aku lakukan nanti dan jadi mau nginep dimana.
Aku memesan susu kopi dan roti bakar coklat keju. Akan sangat pas untuk menemani malamku. Sambil wifian aku fban sama Evi dan Mas Irman. Tanya-tanya kabar, tanya-tanya berita tentang MTQ. Lumayanlah untuk nyambung silaturahmi. S
Di tengah aku menikmati wifi, roti, dan kopi, Bapak tiba-tiba telpon. Nanya aku nginep dimana, aku menjelaskan panjang lebar dan akhirnya ga di izinin buat nginep di depan alfamart. Di suruh nyari penginapan atau tidur dimana gitu, yang aman. Akhirnya petualangan bolang ngemperku terputus. Dengan sedikit sungkan aku menghubungi Mas Annas lagi, bilang kalau aku mau nginep di STAIN. Padahal tadi sudah bilang nginep di DEMA, kan sungkan >,<
Mas Annas bilang iya monggo, nanti kabar-kabar kalau sudah di STAIN.
Sekitar jam 9 aku mengemasi barang-barangku dan cuss dari Shine. Jam 9.16 aku sampai di STAIN dan segera mengirim sms ke mas Annas. Tapi sampai jam 9.40an tidak juga ada balasan. Dalam proses menunggu itu aku bertemu dengan Yuni, mahasiswa pecinta alam Trenggalek yang sedang nginep di STAIN untuk meminjam alat nggunung. Kita basa-basi sejenak dan bahkan aku sempat nitip minta dibelikan air minum ketika ia keluar sebentar.
Hopeless nunggu Mas Annas, akhirnya aku lobying ke Yuni.
Kalau aku nginep di camp mapala boleh ndak ya Dek? Dan dia mempersilahkan. Tak lama kemudian datang Dewi, temannya Yuni. Kalau Dewi mahasiswa asli STAIN, jadi asli mapala sini. Dia juga mempersilahkan aku untuk menginap di komplek UKM.
Aku sudah berada di lantai 2, tepatnya di komplek UKM, disana ada banyak sekali anak laki-laki yang sepertinya semua dibawah tingkatku (adik tingkat). Mereka main gitar, bercanda, bergurau layaknya aktivis-aktivis lain. Satu hal yang membuatku tidak begitu nyaman, komplek UKMnya rusuh banget. Terlalu berseni, sampahnya morat-marit dan acak-acakan.
Di tengah pengamatanku terhadap gedung UKM, Mas Annas telpon (sebenarnya Dek Annas sih, tapi sudah terlanjur manggil Mas dari awal), nanya aku dimana dan bilang kalau dia di bawah. Akhirnya aku turun ke tempat mereka. kali ini mas Anasnya ga sendiri, dia bawa temen.
Kita nego-nego.
Kalau aku nginep di sini saja gimana? –
Di sini itu banyak cowoknya, sepertinya lebih baik nginep di camp. Putri –jawab mas Annas.
Camp PMII? Aku menyela
Dia mengangguk. Kita bertiga kemudian menuju jalan Sunan Ampel 1. Ke camp PMII putri. Di sebelahnya, jeda satu rumah, ada camp PMII putra. Di Camp itu seorang sahabati menyambutku dengan hangat, namanya Dek Nuri, asli Demak Jawa Tengah. Kita berempat berdiskusi cukup lama di depan camp. Tentang PMII UM, STAIN, pergerakan, pesantren, idealisme dan banyak lagi lainnya. Terlebih Annas, yang ternyata juga wapresma STAIN mengenal Presma dan wapresma UM, Shofi ketua komisariat PMII Sunan Kalijaga, dan Mas Rizki anak Gasek yang sekaligus Owner Kopi Lanang. Jadi kami seperti menemukan titik persamaan yang bisa dibicarakan panjang lebar.
Overall aku sangat menikmati moment bersama mereka dan berterimakasih sekali atas sambutan yang luar biasa hangat. Terimakasih yang sama atas pengetahuan dan pengalaman yang diberikan. Semoga Allah senantiasa mendekatkan dan mempertemukan kami lagi di lain waktu. Amiin.
Jam 11 mas Annas dan Mas Roziqin kembali ke tempatnya. Aku istirahat dan dek Nuri masih melanjutkan aktivitasnya.
From Kediri with Love

Keluarga Besar PMII - Sahabat

TENTANG ANDRE

Hasil gambar untuk GREENAku tidak pernah mengenalmu. Bahkan sampai sekarang, ketika nafasmu sudah tak berhembus lagi. Demikian dengan perangai dan sikapmu, aku tidak pernah tahu. Tapi kehilanganmu adalah juga sesuatu yang membuatku berduka.

Kau membuatku teringat kembali bahwa kematian bukan sesuatu yang berpedoman pada usia. Kapan saja ia bisa datang. Tanpa surat peringatan sebagaimana jika kita melakukan pelanggaran di kampus. Iya kan?
Sudah sering aku mendengar ayat Al Quran Kullu Nafs Dzaa-iqotul maut, setiap yang bernyawa akan mati. Tetapi jarang sekali aku dapat memaknainya dengan sungguh-sungguh; dan sekarang, kau membuatku benar-benar mengerti.
Rasanya terlalu cepat Ndre.
Kau pasti seusiaku.tengah asyik juga mendalami cerita dunia remaja yang menginjak dewasa. Tengah menjajaki kisah romansa antara pemuda-pemudi yang mencari pendamping hidupnya. Juga tengah mencari jati diri dan menentukan kearah mana akan berlari.
Ndre, rasanya baru kemarin (15 Desember) kau bertutur ria dalam IG bahwa kau sedang menikmati hidup bersama kawan-kawanmu dalam selebrasi kelas. Tidak ada raut sedih atahu sakitmu disana. Tetapi sekarang kau pergi begitu saja meninggalkan tutur ramah dan guyonan renyahmu.
Ndre,katanya kau sakit leukimia tingkat akut. Bukankah itu sakit? Mengapa kau tak pernah mengatakan kau sakit?
Memang leukimia penyakit yang sulit diobati. Tetapi setidaknya jika kau mengatakan, kau akan mendapatkan pengobatan dan jika Allah mengijabahi kau akan sembuh. Argh.. sudahlah. Semua ini sudah ketetapan. Mungkin itu yang akan kau katakan Ndre.
Seseorang mengatakan kepadaku bahwa dia pernah menyukaimu dulu. Aku tak tahu bagaimana tepatnya perasaannya ketika tahu bahwa kau telah tiada. Yang jelas akan lebih kehilangan daripada aku.
Tenanglah disana Ndre. Semoga Allah menempatkanmu di sisiNya: tempat yang paling mulia.
Sejatinya aku dan sahabatmu yang lainnya tengah menunggu waktu yang sama. Menanti malaikat Izrail datang menjemput.Yang kami semua tak tahu kapan itu terjadi.
Kau tahu Ndre, suatu kali aku pernah menangis. Waktu itu aku merasa tanda-tanda kematian telah mendekatiku. Aku menangis karena aku takut meninggalkan kedua orangtua dan sanak familiku. Aku belum sempat membahagiakan mereka dan amalku masih sangat sedikit. Aku memikirkan bagaimana jika aku pergi? Orangtuaku tentu akan sangat sedih, setidaknya ada banyak harapan yang mereka gantungkan dipundakku. Sebagai penerus keluarga, sebagai walad sholihah yang mendoakan kedua orangtuanya, dan sebagai kakak yang akan mengurus adik-adiknya.
Ndre, sekarangpun. Menulis ini membuatku menangis. Mungkin aku memang terlalu hubbud dunya. Aku belum bisa zuhud Ndre. Masih jauh dari kata zuhud.
Ndre, aku harus menyudahi suratku sampai disini.
Innalillahi wa inna ilaihi roji-un. Semoga kita semua khusnul khotimah. Semoga maghfiroh dan maunah Allah senantiasa menyertaI

ARTI (3)

Gambar terkaitSesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal – Q.S. Luqman: 34**

..
Pagi tadi jam 10, saya mendapat undangan walimatul hamil di rumah tetangga dekat Pondok Gasek. Bersama dengan 7 orang santriwati lainnya, saya berangkat jalan kaki dengan membawa mushaf setelah sebelumnya mampir ke ndalem Ummi` Dewi (biasa dipanggil Bu Kaji) terlebih dahulu.
-Walimatul Hamilnya di rumah Bu Naryo. Kalian jalan kaki? Yasudah berangkat duluan saja. Nanti saya nyusul naik sepeda- tutur Bu Kaji.
Nggih Mi` kami menyahut hamper serempak.
Kami belum mengetahui dengan pasti dimana rumah Bu Naryo, Ummi` hanya memberi isyarat rumahnya di samping musholla Al Arif, memiliki latar berpaving merah. Ketika sampai di depan rumah dengan ciri yang sama, saya bertanya kepada Bapak* yang tengah duduk di teras – Beliau sedang asyik berbincang dengan shohibnya. Belum sempat bertanya, Bapaknya sudah tanya duluan
Mau cari rumah siapa Mbak?
Bu Naryo Pak, apa benar ini rumah Bu Naryo jawabku.
Saya Pak Naryo Mbak.
Kami semua tertawa kalem dan kemudian masuk ke dalam rumah setelah dipersilahkan.
Saya mengira kami akan khataman Quran 30 Juz karena akad awalnya Khataman. Tetapi ternyata tidak, dengan dipandu Bu Kaji, kami dan 3 orang tamu undangan dari kampung membaca surat-surat khusus dalam Alquran seperti: yaasiin, al Mulk, Al Imron, Luqman, Maryam, Yusuf, Muhammad, dan Ar Rohman.
Saya sendiri mendapat bagian surat Luqman. Di bagian akhir surat saya membaca ayat yang menggetarkan hati (sebagaimana yang saya tulis di atas). Benar-benar manusia sangat tidak tahu banyak hal. Dan justru karena itu, yang semakin sedikit ilmunya akan merasa telah mengetahui segalanya – yang semakin menyamudera ilmunya akan merasa tidak mengetahui apa-apa.
Kata Cak Nun, ada kalanya manusia memang tidak harus tau segala hal. Akal manusia tidak akan sanggup menerima itu, kecuali mereka yang telah terpilih.
Allahumma tsabbitnii alaa diinik. Amitna ala dinik.
Membaca ayat terakhir surat Luqman itu membuatku merasa kecil dan tak berdaya. Allah berkuasa atas segala hal. Dia Dzat yang Maha Membolak-Balik hati. Maka akan sangat sombong sekali jika manusia merasa paling benar dengan apa yang telah dia lakukan.
–Bukan banyaknya dzikir. Bukan banyaknya jama-ah. Bukan banyaknya puasa ataupun sedekah yang menjadi jaminan kita masuk surga. Kalaupun kita di naaskan menjadi ahlul jannah, itu semata-mata atas ridho dan ketetapan Allah. Kalaupun kita telah di naaskan menjadi ahlul neraka, maka itu juga atas ridho dan ketetapan Allah. Bagaimana bisa kita mengandalkan amal ibadah kita? Sedangkan seringkali dalam pelaksanaannya kita lebih cenderung lalai untuk benar-benar lillahi ta`ala. Ibadah kita terlalu banyak cela. Dan betapa Maha pemurahnya Allah yang selalu memberi ni`mat kepada kita kendati kita adalah makhluk yang terkadang tak tau syukur— cuplikan ngaos Ustadz Qowim dalam mutholaah kitab Kifayatul Atqiya`.
Maka …
Betapa kecil dan tak berdayanya manusia. Karena Dia yang Maha Segala maka Dia bebas melakukan segalaNya. Dan segala yang berasal dari Dia adalah selalu baik adanya. Serta tak ada sesuatupun yang tidak berasal dariNya. Tak juga sesuatupun luput dari pandangan dan kuasaNya. Oleh karena itu, segala yang terjadi di semesta ini adalah benang merahNya yang akan selalu memiliki hikmah.

Robbanaa maa kholaqta hadzaa baathilan.

ARTI (2)


Gambar terkait
Hidup:
Telah sepenuhnya diatur oleh Tuhan.
Telah sepenuhnya berjalan sesuai kehendak Tuhan.
Ridhoi takdir-Nya maka Ia akan meridhoimu

ياايته النفس المتمئنة , ارجعى راضية مرضية , فادخلى في عبدي , وادخلى جنتى

Hidup bagi beberapa orang adalah tentang pencapaian-pencapaian, sebagai wujud aktulisasi diri untuk menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Bagi sebagian lain hidup adalah tentang nriman ing pandum, hidup sebagaimana mestinya, yang penting ada uang, yang penting makan, yang penting ngumpul.
Ada berbagai definisi tentang hidup, dan ia akan selalu berbeda pada setiap akal yang memaknainya dengan pengalaman hidup yang berbeda.
Arwah manusia adalah pasukan yang tersusun. Yang saling kenal akan berpadu, dan yang saling menentang akan berselisih.
HR. Bukhari Muslim
Dan berbeda itu fitrah. Berbeda itu perlu. Sebagaimana telah ditulis oleh Pak Ismail Fajrie Alatas mengutip dari Raf`al-astar milik Habib Abdurrohman bin Abdullah bil Faqih ba alawi:
Tetapi sungguh jalan-jalan Allah sebanyak napas seluruh ciptaan-Nya
Meskipun kita akan sulit bersatu dengan yang berbeda, tetapi kita tetap bisa berbagi harmoni dengan mereka. saya teringat dengan perbincangan Cak Nun dan putranya yang masih kelas 3 SD,
Bah, kalau diberi pilihan, Abah mau di dunia ini ada pencuri atau tidak ada pencuri –
Cak Nun menjawab, tergantung. Dalam konteks apa dulu. Kalau sebagai manusia yang hidup di masyarakat dan di desa-desa tentu kita tidak mengharapkan adanya pencuri. Tetapi kalau dilihat dari lelakone dunyo dan ketentuan Allah, ya pencuri itu memang harus ada. Sebagai penyeimbang.
Lantas putra yang masih kecil itu menimpali, kalau aku sih memilih ada banyak pencuri Bah. Jadi kita bisa punya pilihan untuk berbuat baik atau berbuat jahat.
kurang lebih demikian percakapannya.
Masyaallah sekali, seorang anak kecil bisa memiliki nalar pemikiran yang sedemikian jauh. umumnya seorang anak yang notabene diasupi dengan hal yang baik-baik itu baik dan hal yang buruk-buruk itu buruk, tidak akan berpikir sampai kesana. Umumnya mereka hanya tahu bahwa mereka tidak boleh melakukan itu karena ia buruk, dan ia harus melakukan itu karena ia baik.
والله يرزق من يشاءبغيرحساب
Allah berhak memberi rizki kepada siapapun yang Ia kehendaki.
Berhak memberi petunjuk kepada siapapun yang Ia kehendaki. Semua selalu atas kehendak Allah dan kepadaNyalah kita memasrahkan diri.
..
Kembali kepada hidup, karena sudah menjadi fitrah, maka kita tidak akan bisa menolak sesuatu yang bernama perbedaan. Suka tidak suka, mau tidak mau, perbedaan itu akan selalu ada. Oleh karenanya, bagaimana sikap kita menanggapi perbedaan itu adalah hal yang sangat penting. Bagaimana kita menjaga toleransi dan menjunjung penghargaan menjadi sangat perlu untuk diperhatikan.
aku pribadi, lebih sering memandang perbedaan dengan cara yang negatif. Dan saya juga menyadari betapa hal ini sangat tidak baik. Untuk itu aku terus belajar dan melakukan perenungan, bagaimana menerima dengan ikhlas dan menghargai dengan tulus.
Allahu rabbi ighfirlii.
..
Dan berbeda dalam hidup itu pula yang membuatku berpikir kenapa aku harus melihat orang lain untuk dapat memaknai hidupku sendiri?
Manusia adalah makhluk sosial. Berhubungan dengan manusia lainnya sangat diperlukan. Memahami mereka sebagai makhluk yang berperasaan diperlukan. Menjaga hubungan baik, meraih pencapaian, merunut jejak orang hebat, belajar kepada sesama. Semua itu sangat dibutuhkan. Tetapi kalau terlalu terpengaruh dengan bagaimana mereka hidup, itu juga tidak terlalu baik.
Belajar dan melihatlah tanpa harus menghilangkan siapa dirimu. Teruslah memperbaiki diri dengan tetap menjadi siapa kamu. Teguhlah pada pendirian yang benar. Setidaknya kita akan istimewa dan merasa bangga dengan tetap menjadi siapa kita.